Mereka lolos secara agregat 3-3. Seperti yang dialami Chelsea yang terhenti langkahnya dari Liverpool 1-0 pada Selasa setelah hanya memperoleh hasil imbang dalam pertandingan pertama, PSV juga juga sangat terpukul mengingat dominasi mereka di sepanjang pertandingan, namun harus berakhir sia-sia.
Secara keseluruhan PSV tampil lebih baik malam itu dan berhasil membobol Milan untuk pertama kali setelah tampil perkasa dalam delapan partai Liga Champions sejak November dan tidak pernah kebobolan, namun kesalahan kecil pada menit-menit terakhir memberi Milan keuntungan gol tandang melalui tandukan Massimo Ambrossini.
Dua gol yang dicetak pemain depan Korea Selatan Park Ji Sung pada menit 9 dan Philip Cocu pada menit 65 sebenarnya cukup bagi PSV untuk memaksakan dilakukan perpanjangan waktu. Selain memastikan langkah Milan ke babak final, tandukan Ambrossini juga berarti PSV harus mencetak dua gol untuk menang.
Namun dengan waktu yang tersisa, mimpi mereka untuk tampil pada babak final pun urung jadi kenyataan. Gol indah Cocu setelah terjadinya gol Ambrossini tidak memberi arti apapun bagi Juara Liga Belanda tersebut karena kemenangan 3-1 mereka pada pertandingan kedua sia-sia.
Sekarang pagelaran duel dua klub paling sukses dan terbesar di dunia pada 25 Mei mendatang siap digelar, meskipun final ini akan menjadi final pertama bagi Liverpool di Liga Champions sejak 1985. Pada 1985, mereka kalah dari Juventus dalam tragedi di Stadion Heysel, Brussels yang merenggut 39 nyawa.
Kebanyakan korban adalah pendukung tim Juventus yang tewas setelah runtuhnya tembok stadion karena menumpuknya pendukung Liverpool. Peringatan ke-20 tahun tragedi itu terjadi empat hari setelah partai final melawan Milan, yang merupakan final ketiga bagi Liverpool menghadapi tim-tim Italia setelah AS Roma (1984) dan Juventus.
Tetapi peringatan tersebut sudah terasa bulan lalu saat Liverpool bertemu Juventus untuk pertama kali dalam babak perempat final dan sekarang fokus telah bergeser ke partai puncak Liga Champions tiga pekan lagi.
Sebelum singgah ke babak final, Liverpool telah mengatasi perlawanan Juventus dan juara baru Liga Inggris, Chelsea, serta hanya kebobolan satu gol dalam empat pertandingan. Dengan demikian, meskipun Milan adalah tim favorit untuk Liga Champions musim ini, mereka akan menghadapi tugas sulit di Istanbul jika ingin merebut gelar ketujuh mereka.
Jika Milan tampil lagi seperti saat mereka menghadapi Eindhoven, mereka akan memberi Liverpool gelar pertama mereka sejak gelar keempat mereka pada 1984. Sebagian besar pemain Milan telah berpengalaman bermain di final Liga Champions saat mereka harus menghadapi Juventus di 2003.
Sedangkan Kapten Milan, Paolo Maldini akan tampil untuk ketujuh kalinya dalam babak final Liga Champions setelah kemenangan pada 1989, 1990, 1994, 2003 dan kekalahan di 1993 dan 1995. Jika dia bermain dan Milan menang, maka Maldini akan menemani legenda sepakbola Alfredo Di Stefano dan Jose Maria Zarraga dari tim legendaris Real Madrid tahun 1950 yang memenangkan lima final mereka.
Dan itu akan membuatnya hanya berselisih satu dengan Fransisco Gento, satu-satunya orang yang bermain bagi Real Madrid saat memenangkan enam gelar pertama mereka antara 1956 dan 1966. Pelatih Milan, Carlo Ancelotti juga akan mengangkat trofi kedua Liga Champions sebagai pelatih setelah kemenangan atas Juventus melalui tendangan penalti pada 2003.
Sedangkan manajer Liverpool Rafael Benitez juga bertekad untuk mengikuti suksesnya bersama Valencia pada Piala UEFA musim lalu dengan raihan trofi piala Champions pertama Liverpool sejak kemenangan di Piala UEFA pada 2001. Kedua klub juga akan menghadapi lawan dari Italia dan Inggris untuk kedua kalinya musim ini.
Milan menyingkirkan Manchester United pada perempat final setelah unggul 1-0 di Old Trafford dan San Siro, sementara Liverpool mengungguli Juventus 2-1 di Anfield dan 0-0 di Turin. (*/tut)