< >

Kaltim Tunggu Arkeolog untuk Teliti Fosil Binatang Raksasa

Jum'at, 06 Mei 2005 10:50
Kapanlagi.com - Pemkab Kabupaten Pasir (Kaltim) masih menunggu Tim Arkeolog dari Banjar Baru (Kalimantan Selatan) untuk melakukan penelitian mengenai rangka yang ditemukan April 2005 oleh warga Tanjung Aru, untuk memastikan apakah benar benda itu fosil binatang purba raksasa.

Pj (Pejabat) Bupati Pasir, Adi Buchari Muslim mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu Tim Arkeolog dari Banjar Baru. "Jadi bukan tidak menangani dengan benar fosil tersebut, sebaiknya kita menunggu pihak yang memang ahlinya untuk meneliti."

Hal itu terkait dengan masih disimpannya fosil itu di rumah penduduk yang terdapat di kawasan pantai. Sebelumnya warga setempat dikejutkan dengan penemuan fosil binatang purba berukuran raksasa yang terpendam di bawah akar pohon bakau Desa Aru, Tanjung Harapan.

Warga yang menemukan fosil itu, seorang remaja bernama Anto (15). Ia menemukan fosil itu saat mencari kepiting di tambak milik ayahnya di Desa Tanjung Aru yang berseberangan dengan Desa Selangot. Temuan itu bersama beberapa warga desa kemudian dibawa ke rumahnya selama empat hari, dan bersama tokoh masyarakat dilaporkan ke Pemkab Pasir.

Pj Bupati menyerahkan pengamanan lokasi penemuan pada warga dan pemilik tambak agar kawasan itu tidak dirusak oleh pihak tidak bertanggung jawab. "Sekiranya rangka itu adalah dari binatang mamalia, Paus, juga jadi pertanyaan, mengapa bisa berada di daerah tambak atau dulunya hutan bakau, sehingga banyak pertanyaan yang bisa diungkapkan."

Namun, ia mengatakan bahwa Pemkab Pasir sampai kini tidak bisa memastikan jenis binatang dari rangka raksasa itu sebelum ada penelitian mendalam dari pihak yang memang ahlinya. Dikhabarkan Tim Arkelog dari Banjar Baru dalam waktu dekat akan tiba di Pasir untuk melakukan penelitian.

Fosil itu terdiri dari 27 tulang rusuk, masing-masing tulang rusuk itu berukuran 66 cm-130 cm dengan lebar 3 cm-5 cm. Sedangkan fosil tulang belakang 32 buah, diameter 10 cm-15 cm, tebal 4 cm-16 cm.

Selain tulang itu, ditemukan pula fosil lempengan alat penyambung tulang belakang, fosil bagian tulang belakang berbentuk bulatan mengencil, fosil tulang belakang X berbentuk tipis menyerupai kipas, fosil tulang kaki (dua buah masing-masing panjang 217 cm dengan diameter/tebal 5-10 Cm), fosil tulang menyerupai taring, fosil tulang berbentuk rangka sayap, dan fosil penyerupai kerang.

Juga ditemukan fosil tengkorak kepala panjang/tinggi 60 cm dan lebar rangka kepala 20-60 cm. Sebelumnya, di Kaltim juga terdapat beberapa temuan mengejutkan bagi ilmu pengetahuan antara lain, adanya pesut dengan ekosistem air laut/asin di Pesisir Balikpapan. Padahal selama ini satwa pesut (Orcealla sp) dianggap hanya hidup di ekosistem air tawar/sungai.

Berdasarkan salah satu teori, Pesut Mahakam dianggap merupakan evolusi dari sejenis mamalia atau diperkirakan lumba-lumba yang terjebak di ekosistem air tawar. Diperkirakan dulunya pedalaman Mahakam (sungai terpanjang di Kaltim atau 920 Km) adalah laut yang bersamaan dengan tumbuhnya delta, sehinga pesut terjebak dalam ekosistem air tawar.

Penemuan lain yang mengejutkan, ternyata Pesut Mahakam bukan hanya terdapat di Sungai Mahakam, namun ditemukan bangkai pesut yang terjepit diperahu pada Sungai Sesayap, Malinau, April 2005 lalu membuktikan pesut juga terdapat di lokasi lain di Kaltim.

Dua penemuan itu bisa mematahkan sejumlah teori, mengingat selama ini Pesut Mahakam dipercaya hanya hidup di tiga belahan dunia, yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong dan Sungai Irawady. emuan lain yang mengejutkan adalah adanya sejenis gajah Asia di Taman Nasional Kayan Mentarang (1,2 juta hektare) yang posisinya berada pada dua kabupaten, yakni Malinau dan Nunukan. Padahal gajah sudah dianggap punah dari bumi Borneo sejak ratusan tahun silam. (*/tut)