Insiden yang terjadi Jumat pagi ini menyebabkan bandara ditutup untuk lalulintas penerbangan selama satu jam. Semua penumpang yang diantaranya terdapat seorang bayi dan tiga orang anak itu, selamat tanpa cidera. Mereka segera dievakuasi dengan kendaraan yang disiapkan pihak Bandara dan Lion Air.
Insiden diawali saat pesawat berhenti meluncur di atas landas pacu pada jarak sekitar 2.000 meter dari ujung landasan tempat dimana pesawat pertama kali menyentuh runway. Staf Humas PT. Angkasa Pura I Bandara Hasanuddin Makassar, Ade Arin Noenoehitoe mengemukakan, pesawat yang diterbangkan kapten pilot Edwar Limbung itu mendarat pukul 10.42.
Namun saat meluncur di runway, ban roda pendarat bagian depan tiba-tiba pecah sehingga pesawat tersebut berhenti meluncur di landas pacu setelah sekitar 2.000 meter meluncur. Para petugas kemudian segera mengirim regu penolong untuk mengevakuasi penumpang dari tengah landas pacu.
Sementara itu pihak Lion Air berusaha mengganti ban pendarat yang rusak itu, kemudian pesawat ditarik ke apron. Pada pukul 11.47, pesawat nahas itu sudah berada di taxy way dan bandara Hasanuddin kemudian dibuka kembali untuk seluruh aktivitas landing dan take-off pesawat. Pada pukul 12.24, pesawat sudah berada di apron.
Menurut Ade, sedikitnya ada tiga penerbangan yang dialihkan pendaratannya akibat kecelakaan itu, yakni pesawat Lion Air dari Surabaya dan Batavia Air dari Biak, dialihkan pendaratan mereka ke Bandara Sepinggan Balikpapan, sedangkan pesawat Garuda dari Biak dialihkan ke Bandara Ngurah Rai, Denpasar.
Sedangkan pesawat yang ditunda take-off belum terdata, namun diperkirakan cukup banyak karena kecelakaan itu tepat pada jam-jam ramainya lalulintas penerbangan di Bandara Hasanuddin. "Sekarang, lalulintas penerbangan sudah normal kembali," ujar Ade. Para penumpang Lion Air yang nahas itu sudah dialihkan ke penerbangan lain untuk melanjutkan perjalanannya ke tujuan masing-masing.
Sementara itu, Manager Public Relation Lion Air, Hasyim Arsal Alhabsi mengatakan, pesawat Lion Air tersebut mengalami kempes ban saat mendarat yang kemungkinan disebabkan terkena benda tajam. "Kayaknya ban roda pendarat bagian depan itu kena benda tajam, karena saat diperiksa, dua-duanya kempes. Jarang sekali terjadi kempes ban kedua roda secara bersamaan kecuali kalau terkena benda tajam."
Ia menambahkan, jadwal penerbangan Lion Air kini sudah kembali normal, kendati mengalami sedikit keterlambatan. Pihak Bandara Hasanuddin Makassar membantah sinyalemen Hasyim Arsal bahwa ban roda pendarat mesawat nahas tersebut kempes karena terkena benda tajam.
Kecelakaan pesawat saat mendarat seperti ini merupakan kasus yang kelima kalinya di Bandara Hasanuddin Makassar dalam kurun waktu enam bulan terakhir, dan yang kedua kalinya bagi Lion Air dalam tiga bulan terakhir. Empat pesawat nahas lainnya masing-masing pesawat Bouraq jenis Boeing 737-200 yang terbang dari Surabaya membawa 118 penumpang, tergelincir ke luar landasan saat mendarat pada Selasa 30 November 2004.
Semua penumpangnya selamat namun badan pesawat mengalami kerusakan cukup serius. Sehari kemudian yakni Rabu, 1 Desember 2004 sekitar pukul 08.45 Wita, pesawat tempur F-16 milik TNI AU, tergelincir di bandara yang sama saat mendarat dalam sebuah latihan di bandara tersebut. Pilot Kol. Ismono dan co pilot Kapten Satrio selamat.
Namun pesawat mengalami kerusakan serius pada bagian roda pendarat. Kecelakaan pesawat tempur ini terjadi karena sistim pengereman pesawat tidak berfungsi optimal. Sedangkan yang ketiga adalah pesawat Lion Air jenis MD-82 dari Ambon yang membawa 146 penumpang, tergelincir ke luar landasan saat mendarat pada hari Kamis 3 Pebruari 2005. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut.
Kecelakaan yang ke-empat adalah pesawat Boeing 737-200 Merpati Nusantara AlirlinesMakassar, dari Biak, Papua dengan membawa 57 orang penumpang dan empat awak pesawat, mengalami kecelakaan saat mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar hari Kamis.
Tidak ada korban jiwa tewas dalam musibah itu, namun sedikitnya 20 orang penumpang mendapat perawatan medis di RS TNI AU, dua diantaranya cidera berat. (*/tut)