"Kami tidak mau kembali ke desa asal di kepulauan tersebut karena rumah dan fasilitas umum sudah hancur dalam bencana alam akhir tahun lalu," kata Zulkifli, salah seorang warga Pulo Aceh. Para pengungsi yang saat ini tinggal di bawah tenda-tenda darurat dan barak pengungsian di Jantho, berharap agar pemerintah membangun kembali rumah mereka di Jantho.
Zulkifli yang juga guru di Pulo Aceh bersama keluarganya telah empat bulan berada di pengungsian di Jantho atau sekitar 55 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh itu mengaku kehidupan para pengungsi sudah menyatu dengan masyarakat Jantho.
"Selama ini, kami juga sudah memulai bercocok tanam dan berternak atas bantuan pemerintah setempat," katanya. Oleh karena itu, selain adanya pembangunan perumahan, para pengungsi asal kepulauan ujung Provinsi NAD tersebut berharap adanya bantuan modal dari Pemerintah.
"Saya berbicara mewakili ratusan jiwa para pengungsi asal Pulau Aceh yang menetap sementara di lokasi pengungsian Jantho," ujar dia. Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi NAD, Azwar AB mengatakan Pemerintah telah menyiapkan lahan perkebunan kelapa sawit seluas 1.000 hektare di wilayah Aceh Besar.
"Pembukaan areal perkebunan kelapa sawit di Jantho itu sudah dimulai sejak tahun 2004. Pada awalnya, Pemerintah akan memberikan lahan kelapa sawit itu kepada warga miskin, korban konflik dan pensiunan TNI/Polri dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun kini kemungkinan juga diberikan kepada korban bencana alam gempa dan tsunami," ujarnya.
Program lahan 1.000 hektare tersebut akan diberikan kepada petani yang masing-masing akan memperoleh seluas dua hektare untuk masing-masing KK. "Itu program awal dari pemerintah dalam upaya pemberdayaan masyarakat miskin, kaum dhuafa dan korban konflik," tambah Azwar. (*/tut)