Badan sepakbola berwenang di dunia itu memindahkan pertandingan Grup B 8 Juni itu ke Bangkok dan memerintahkan pertandingan itu dilangsungkan di lapangan tertutup sebagai bagian hari hukuman terhadap kerusuhan penonton yang mewarnai kekalahan Korea Utara 2-0 melawan Iran di Pyongyang Maret lalu.
"Kini keputusan akhir untuk menyelenggarakan pertandingan di Bangkok, telah dibuat, kami harus mempersiapkan diri," kata Kawabuchi. "Isu utamanya adalah bagaimana tim itu akan bertanding di sebuah stadion yang kosong."
JFA telah diberitahu tentang keputusan itu pada jam-jam awal Selasa pagi menurut waktu setempat. FIFA membuat keputusan akhir hari Senin karena tidak ada banding yang disampaikan oleh Korea Utara dalam waktu yang diberikan oleh Kode Disiplin FIFA.
Kawabuchi sebelumnya mengatakan penyelenggaraan pertandingan Jepang-Korea Utara di Thailand akan mengurangi lawatan untuk menyaksikan pertandingan antara kedua tim itu. Lima hari sebelum tertandingan mereka, jadwal semula dilangsungkan di Pyongyang, Jepang akan berhadapan dengan Bahrain dan Korea Utara melawan Iran di luar kandang.
Ketua Persatuan Sepakbola Thailand Vijitr Getkaew memberikan jawaban terhadap permintaan FIFA dan bahwa venue netral akan disediakan di Stadion Nasional Rajamangala Bangkok. FIFA menjatuhkan sanksi terhadap Korea Utara setelah para penggemar sepakbola Korea Utara marah karena pemain tim itu, Nam Song Choi dikeluarkan dari lapangan.
Ini mengakibatkan para penggemar marah, mereka melemparkan benda-benda keras, botol dan kursi ke lapangan pertandingan Iran. Ribuan penggemar menghentikan para pemain Iran dari meninggalkan stadion setelah pertandingan itu, yang mendorong polisi turun ke lapangan untuk memulihkan keamanan.
Sehari setelah FIFA menjatuhkan hukuman itu pada 29 April, Kawabuchi mengatakan dia berharap pertandingan itu akan dilangsungkan di Malaysia, tetapi tidak di Cina, dimana masih ada gelombang demonstrasi anti Jepang. Tetapi Korea Utara pekan lalu mengecam keputusan FIFA "yang tak adil" itu untuk memerintahkan mereka bertanding 8 Juli melawan Jepang di lapangan tertutup di sebuah tempat yang netral.
Suratkabar olahraga Cheyuk Sinmun mengatakan dalam sebuah komentarnya bahwa FIFA harus memikirkan kembali keputusannya, sementara media itu menuduh badan sepakbola berwenang dunia itu memfavoritkan Jepang, yang ingin pertandingan itu dilangsungkan di Malaysia. (*/tut)