Perempuan Indonesia di Mata Seniman Perdamaian Unesco

Kapanlagi.com - Berkelana sejak berumur 17 tahun, Titouan Lamazou (50) telah menjelajahi hampir seluruh belahan dunia. Ia dikenal sebagai seorang juara dunia lomba layar di laut lepas yang memenangkan berbagai kejuaraan layar internasional, termasuk kejuaraan mengelilingi dunia Vendie Globe pada 1990, dan memegang gelar juara dunia balap maritim (maritime racing).

Titouan juga dikenal berkat sketsa, foto dan tulisan-tulisannya, terutama dalam buku 'Catatan Perjalanan'. Perjalanannya ke Indonesia "berakhir" di Galeri Nasional, Jalan Merdeka Timur, Jakarta, yang memamerkan sketsa dan fotonya yang berjudul "Perempuan Indonesia" pada 3 hingga 17 Mei 2005, yang mengisahkan 13 perempuan dari berbagai pulau di Indonesia.

Linda, misalnya. Perempuan cantik dan muda itu menarik perhatian sang pelukis, karena ia adalah seorang nelayan yang bekerja keras.

Gadis yang merupakan muslim taat tersebut adalah anggota satu kelompok nelayan yang pergi melaut setiap malam, dan dapat ditemui pagi harinya menjual hasil tangkapannya di pasar ikan Maumere, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), lokasinya juga membeli ikan-ikan lain untuk dijual kembali di desanya.

"Dengan betis indahnya yang kering dan penuh goresan, tulang pipi ala gadis Somalia, bibir penuh merekah, serta pandangan silih berganti antara tajam dan hangat, Linda adalah seorang gadis `tomboy` yang menarik, sekuntum bunga indah dari Flores," demikian deskripsi sosok Linda, yang mengacungkan seekor ikan dalam foto hasil jepretan Titouan.

Titouan mulai melakukan perjalanan keliling dunia pada 1972 untuk mewujudkan apa yang disebutnya "catatan harian perjalanan".

Ia memilih menggunakan perahu layar sebagai alat transportasi dan bekerja sebagai awak kapal. Pada tahun 1975, pria berkebangsaan Prancis itu bertemu dengan Yvon Fauconnier di Antilles (kawasan Amerika Latin) dan ikut berlayar bersamanya dengan kapal Vandredi 13.

Kemudian, ia bertemu Eric Tabarly dan berlayar bersamanya selama dua tahun menggunakan perahu layar Pen Duick VI, dan turut dalam perjalanannya Phillippe Poupon, Jean-Louis Etienne dan Jean-Francois Coste.

Lima belas tahun kemudian, setelah menang dalam kejuaraan dunia lomba layar di laut lepas, ia kembali ke dunia seni. Setelah menerbitkan berbagai buku, ia akhirnya memfokuskan diri pada proyek Femmes du Monde (Perempuan di Dunia) yang dikerjakannya sejak 2002.

"Selama dua puluh tahun, saya berkeliling dunia dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain. Ketika saya memutuskan untuk berhenti menjadi navigator profesional, saya tetap berkelana di darat dan mencoba mengenal lebih dekat aspek budaya," kata Titouan.

Salah satu hasil petualangannya di pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, adalah sosok Siti, seorang buruh pelabuhan yang membongkar muatan kapal di pelabuhan kapal phinisi.

Sebagai satu-satunya buruh perempuan di antara sekitar 500 pekerja pelabuhan lainnya, Siti mungkin hanya bisa dibedakan dari buruh lainnya lantaran tubuh mungilnya.

"Dengan tinggi 1,43 centimeter, Siti bekerja setiap pagi, setiap hari dalam setahun, demi upah yang tak seberapa," ungkap Titouan. Foto-foto yang dipamerkan tentang Siti tidak hanya menceritakan tentang penderitaan, tetapi juga harapan.

Bahkan, hampir semua sosok perempuan yang diabadikan Titouan, baik dalam foto atau dalam sketsa, menunjukkan perempuan-perempuan pejuang. Seorang perempuan yang berjuang dalam hidup, nasib maupun adat yang melingkupi mereka.

Perjalanan Titouan di semenanjung Afrika pada 2001 menyadarkannya bahwa ruang lingkup proyek yang dikerjakannya jauh lebih luas daripada sekedar potret-potret tentang perempuan.

Setelah bertemu dengan berbagai sosok perempuan, ia menyadari bahwa apa yang dilihatnya bukan sekedar sosok perempuan, melainkan gambaran dari masyarakat sekitarnya.

Ia bahkan dapat melihat harapan dan cita-cita dari seorang Pekerja Seks Komersial (PSK), misalnya dalam pribadi seorang Titi, gadis kecil dari Sulawesi.

Simak saja paparannya tentang Titi. "Ibunya mengira bahwa ia mendapatkan pekerjaan musiman di sebuah restoran untuk turis di Flores," catatnya.

Ia menorehkan pula, "Titi tinggal dan bekerja di sebuah karaoke di Maumere. Semua orang tahu apa yang disebut sebagai karaoke di sini. Namun, Titi juga tahu apa yang ia mau, melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Pendidikan di Jakarta membutuhkan banyak uang, Titi adalah seorang anak yang benar-benar pemberani." (*/erl)

©2003-2007 KapanLagi.com