< >

FIFA Dinilai Terlalu Berlebihan Tanggapi Kasus Korut

Jum'at, 13 Mei 2005 17:50
Kapanlagi.com - Ketua sepakbola Korea Selatan mengatakan hukuman FIFA bagi Korea Utara karena rusuh massa di Pyongyang terlalu berlebihan dan dikhawatirkan negara komunis itu akan menarik dan menutup diri.

Namun badan pengelola olahraga dunia mengatakan tidak akan berubah.

FIFA memutuskan pekan ini bahwa Korea Utara harus bermain di stadion tertutup tanpa penonton saat kualifikasi Piala Dunia melawan Jepang di Bangkok, Juni, setelah terjadi rusuh massa pada Maret sewaktu melawan Bahrain dan Iran.

Surat antara Presiden FIFA, Sepp Blatter dan Presiden Asosiasi Sepakbola Korea Selatan, Chung Mong-joon menunjukkan argumen yang dari Chung bahwa keputusan FIFA itu tidak proporsional.

"Seingat saya, FIFA tidak pernah memberi sanksi yang keras terhadap anggota asosiasi atas kasus sejenis, seperti insiden yang buruk di Georgia, Iran, Albania, Costa Rica dan Mali," kata Chung yang juga Wakil Presiden FIFA.

"Itu terlihat tidak pantas bagi DPR Korea menerima hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, hukuman yang keras," tulis Chung pada suratnya tertanggal 1 Mei. Pejabat Korea Utara adalah Democratic People`s Republic of Korea.

"Saya sangat peduli bahwa itu merupakan tindakan yang keras dan mungkin akan mengembalikan mereka ke negara yang tertutup," kata Chung, tanpa bermaksud menyarankan supaya Utara menarik diri bermain di turnamen internasional lagi.

Dalam balasannya tertanggal 11 Mei, Blatter mengatakan dia melakukan "sebagaimana harusnya" atas surat Chung dan memahami posisinya. Namun dia mengatakan bahwa komite disiplin FIFA sudah memutuskan dan menganggap itu tepat.

"Sejak Asosiasi Sepakbola Korea DPR tidak mengajukan banding terhadap putusan itu, putusan ini sifatnya final dan mengikat," tulis Blatter.

"Saya meyakinkan Asosiasi Sepakbola Korea DPR bahwa putusan itu mengacu aturan FIFA yang relevan dalam mengorganisir pertandingan selanjutnya, guna membangun sepakbola dari segala aspek, termasuk kelakuan pendukungnya," kata Ketua FIFA itu.

Sebelumnya pendukung Korea Utara yang marah melemparkan botol, batu dan material lainnya sebagai bentuk kekecewaan di akhir pertandingan ketika Korea Utara kalah 2-0 atas Iran, 30 Maret di Stadion Kim Il-sung, Pyongyang.

Dalam wawancara dengan Radio Free Asia, mantan pelatih Korea Utara yang menyeberang ke Selatan mengatakan dia percaya Utara tidak akan menerima keputusan FIFA itu.

"Ada kemungkinan kuat kalau Korea Utara akan memboikot pertandingan itu," kata Yoon Myong-chan kepada stasiun radio yang berbahasa Korea itu. Transkrip dari wawancara itu dikirim oleh RFA Web site (www.rfa.org). (*/lpk)