"Saat ini Depbudpar sedang mendata calon-calon produser yang ingin menjadikan Indonesia sebagai lokasi shooting filmnya. Kemarin ada pembicaraan dengan MGM, perusahaan film yang memproduksi LORD OF THE RING, tetapi belum ada kesepakatan apa-apa," kata Menbudpar, di Jakarta, Jumat (13/5).
Menurut Jero Wacik, Depbudpar akan tetap mengusahakan agar target sebuah film kolosal di Indonesia pada 2008 akan tetap tercapai.
"Tetapi menurut dugaan saya, yang paling cepat terealisasi adalah film India karena kami tengah menyiapkan lokasi yang sesuai saat ini," katanya.
Depbudpar secara khusus tengah menggarap lokasi-lokasi yang diperkirakan cocok untuk lokasi "shooting" film India di Bali.
"Begitu materi presentasi kita tentang lokasi-lokasi telah selesai maka perdana menteri India telah sepakat untuk memberi kita waktu mempresentasikannya di hadapan sejumlah produser film India, dan kami optimis dua atau tiga produser akan tertarik dengan lokasi yang ditawarkan," katanya.
Pada kesempatan tersebut Jero Wacik juga mengungkapkan keinginannya untuk memajukan dan memaksimalkan seluruh potensi pariwisata di Indonesia.
"Sebenarnya saya ingin memilih beberapa daerah lain, jangan Bali terus tetapi saat ini memang permintaan mereka Bali maka mau tidak mau kita buat di Bali. Walaupun begitu saya memilih daerah di Bali Utara atau Timur karena Bali Selatan telah ramai," katanya.
Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (ASITA), Ben Sukma mengatakan bahwa dirinya menyambut baik keinginan Depbudpar tetapi seharusnya ada skala prioritas.
"Daerah-daerah tujuan wisata Indonesia seperti Bali dan Jogya saja belum sepenuhnya pulih, jadi sebaiknya skala prioritas diberikan pada daerah tersebut yang secara infrastruktur telah siap," ujarnya.
Menurut Ben, boleh saja mengembangkan potensi daerah lain tetapi harus juga dilihat apakah secara infrastruktur daerah tersebut telah siap.
"Misal ingin mengembangkan potensi kota Palu, tentu tidak mudah karena bisa dihitung berapa jumlah penerbangan yang menjangkau Palu," katanya.
Jadi, Ben menambahkan, jika target wisatawan mancanegara diukur dari jumlah seperti yang dicanangkan Depbudpar dengan enam juta wisman maka hendaknya potensi daerah yang telah siap secara infrastruktur itu dululah yang dihidupkan kembali. (*/dar)