Di New York, kontrak utama minyak jenis ringan untuk pengiriman Juni turun 26 sen menjadi US$46,99 per barel dari penutupan semalam sebelumnya di US$47,25.
Harga minyak anjlok US$1,72 saat di perdagangan di New York, Rabu (18/5), menyentuh level terendah sejak 11 Februari.
"Penurunan (harga) merupakan reaksi atas data persediaan cadangan minyak AS naik jauh lebih tinggi dari perkiraan pasar umum," kata Victor Shum, analis di kantor konsultan energi AS yang berbasis di Singapura, Purvin and Gertz.
Departemen Energi AS (DoE) Rabu mengumumkan persediaian minyak bumi selama sepekan sampai 13 Mei yang naik 4,3 juta mejadi 334 juta barel, level tertinggi yang memecahkan rekor sejak Mei 1999.
Kalangan analis sebelumnya memperkirakan peningkatan itu hanya sekitar 1 juta barel.
Cadangan bensin juga melewati perkiraan dengan DoE melaporkan terjadi kenaikan 1,1 juta barel selama sepekan menjadi 214,8 juta, jauh lebih tinggi dari proyeksi sebesar 800.000 barel.
Peningkatan bensin yang besar mengurangi kekhawatiran mengenai terganggunya pasokan pada liburan tradisional musim panas di AS yang akan dimulai akhir bulan ini.
Shum mengatakan, komentar pada awal pekan dari anggota utama Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga membantu mempertahankan harga minyak dari lonjakan.
Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Nuami, Selasa (17/5) mengatakan, negaranya siap meningkatkan produksi "seperti diinginkan pasar". Dia mengatakan tingginya atau tidak stabilnyaharga "bukan keinginan dari negara produsen".
Meski cadangan AS meningkat, al-Nuaimi mengatakan pemimpin OPEC "tidak memiliki rencana untuk menurunkan produksi".
"Komentar yang jelas menunjukkan bahwa OPEC komitmen untuk mempertahankan produksi minyak meski cadangan minyak AS naik," kata Shum.
Harga minyak turun tajam selama bulan lalu, setelah mencapai puncak pada US$58,28 per barel pada awal April. (*/bun)