Ia akan menjadi tuan rumah untuk mitra utamanya dalam langkah "perangnya terhadap teror" -- Presiden Afghanistan Hamid Karzai hari Senin dan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono hari Rabu.
Bukan hanya rakyat di kedua negara itu saja yang merasa sangat marah atas pelecehan kitab suci Alquran oleh tentara AS itu, di banyak negara berpenduduk Muslim lainnya juga merasakan hal serupa.
Bush juga akan terus mendesak Israel dan Palestina mengakhiri konflik mereka, dan akan menyambut pemimpin Palestina Mahmud Abbas ke Gedung Putih hari Kamis setelah menerima Perdana menteri Israel Ariel Sharon di tanah peternakannya di Texas April lalu.
Sementara itu istri Bush, Laura Bush, akan ke Timur Tengah dalam lawatan enam hari. Ia akan berkunjung ke Jordania, Israel dan Mesir untuk meningkatkan pemberdayaan kaum wanita.
Bush hari Sabtu memuji apa yang dikatakannya sebagai kemajuan terakhir dalam "perang melawan teror" dan penyebaran demokrasi di Timur Tengah.
"Teroris mengetahui bahwa tidak ada tempat bagi mereka saat kebebasan mengakar di Timur Tengah, maka mereka berusaha menghentikan langkah kebebasan itu. Namun dalam beberapa pekan terakhir, ada serentetan tiupan angin kencang," kata Bush.
Dan belakangan ini Washington menghadapi serentatan protes keras, atau tiupan angin kencang seperti yang diistilahkan Bush, akibat laporan majalah Newsweek yang memberitakan pelecehan Alquran di penjara AS Guantanamo, Kuba. Tentara AS di Afghanistan juga dibuat repot saat menghadapi para pemrotes.
Sebanyak 15 orang meninggal dalam kerusuhan anti-Amerika di Afghanistan setelah majalah itu membuat berita tersebut.
Ribuan umat Islam di Irak, Iran dan wilayah pendudukan Palestina dan Indonesia meluapkan kemarahan mereka hari Jumat dan Sabtu, sementara para ulama menuntut pemerintah AS meminta maaf jika Washington menginginkan gelombang kemarahan itu mereda.
Newsweek menarik berita tersebut pekan lalu setelah sumber yang tidak disebutkan namanya meragukan berita itu dan menyatakan permintaan maaf lewat surat kepada para pembaca hari Minggu.
"Kami menyatakan permintaan maaf yang mendalam. Kami telah menyiarkan berita penting menjadi salah, dan mohon dimaaafkan atas kesalahan kami," kata Pimpinan dan Kepala Redaksi Newsweek Richard Smith.
Namun rincian baru tentang penyiksaan tanahan Afghanistan oleh tentara AS menambah garam ke luka sehingga menimbulkan kecaman keras dari Karzai menjelang lawatannya ke Amerika Serikat.
"Penyiksaan itu benar-benar membuat saya terkejut. Kami mengutuk ulah tersebut dan kami sangat mengharapkan pemerintah AS mengambil tindakan sangat keras terhadap pelakunya," ujarnya kepada wartawan di Kabul.
Dua tahanan Afghanistan yang ditahan di penjara AS di Pangkalan Angkatan Udara Amerika di Bagram disiksa hingga meninggal oleh serdadu AS, lapor harian New York Times hari Jumat, sambil menyebut berkas setebal 2.000 halaman penyelidikan kriminal Angkatan Darat AS yang bocor dalam kasus itu.
Dua pria itu meninggal tahun 2002 setelah ditendang berkali-kali, digebuki dan kedua tangan mereka yang diikat dengan tali itu digantung di langit-langit penjara. Pola penyiksaan itu mengingatkan orang kepada aksi serupa di penjara AS Abu Ghraib di Irak.
Militer AS juga repot menjelaskan pekan lalu ketika foto Saddam Hussein yang berada di penjara, termasuk satu foto Saddam yang mengenakan pakaian dalam, menghiasi halaman muka majalah tabloid di London dan New York.
Militer Amerika mengatakan pihaknya sedang menyelidiki sumber gambar tersebut, yang dapat melanggar peraturan Konvensi Jenewa karena mengundang keingintahuan publik. (*/dar)