"Selain tanaman kopi yang terlantar juga puluhan unit rumah penduduk dibakar orang tidak bertanggungjawab, sehingga sebagian masyarat eksodus dari desanya," kata Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin, kepada pers di Takengon, Rabu (25/5).
Hal itu disampaikan usai pembukaan program pembinaan perkebunan yang dilakukan pelaksana tugas Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) H. Azwar Abubakar, di Desa Burni Bius, Silih Nagara, sekitar 15 KM dari kota Takengon.
Menurut Nasaruddin, tanaman kopi rakyat yang terlantar di dataran Tanah Gayo itu seluas 17.000 hektar berada di wilayah Aceh Tengah dan 10.000 hektar lainnya tersebar pada beberapa lokasi di Kabupaten Bener Meriah.
Dataran tinggi Tanah Gayo selama ini dikenal sebagai daerah penghasil kopi terbesar di Provinsi Aceh, dengan total produksi antara 1.300 sampai 2.500 ton pertahun dari total areal tanaman kopi rakyat lebih dari 45.000 hektar.
Sementara itu, pelaksana tugas Gubernur Aceh H. Azwar Abubakar dalam pengarahannya di hadapan masyarakat petani di dataran Tanah Gayo berharap, agar mereka segera bangkit untuk mengusahakan kembali tanaman kopi yang diterlantarkan selama ini.
Produksi tanaman kopi rakyat yang dihasilkan selama ini, antara 400 sampai 600 kilogram per-hektar masih bisa ditingkatkan, sehingga para petani diminta untuk bekerja keras, karena situasi keamanan kini semakin kondusif.
"Saya akui, konflik telah membuat masyarakat menderita, bukan saja di wilayah dataran tinggi Tanah Gayo, tetapi masyarakat di daertah lainnya di Nanggroe Aceh juga merasakannya," kata Azwar Abubakar.
Pada kesempatan itu, ia juga mengharapkan kepada masyarakat petani di daerah ini, selain terus berusaha meningkatkan produktivitas juga berupaya memperbaiki kualitas agar mampu menembus pasar internasional.
Menurut Azwar, masyarakat internasional seperti Amerika Serikat, kini sangat mengharapkan dan merindukan kopi dari dataran tinggi Tanah Gayo, namun harus diolah dan dikemas oleh tangan-tangan terampil gadis Gayo.
Selama ini bubuk kopi dari Sumatera, diduga kopi asal Aceh Tengah, mulai mengisi pasar di Amerika Serikat, sehingga di sejumlah restoran bertaraf internasional di Negara adidaya itu dipenuhi pecandu kopi.
"Bukan tidak mungkin, bubuk kopi lebel sumatera di AS itu berasal dari kopi dataran Tinggi Tanah Gayo. Karena dari segi aromanya dan rasanya, tidak ada perbedaan dengan kopi yang ada di daerah ini," kata Azwar. (*/bun)