Staf pengajar FISIP Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, DR Yanuarius Koli Bau, M.Si, mengatakan itu, di Atambua, Jumat di hadapan sekitar 100 peserta seminar sehari bertema "Penanganan Berbagai Masalah Sosial di Perbatasan darat NTT dengan Timtim".
"Kita patut mengakui bahwa mutu pendidikan dasar di perbatasan NTT ini cenderung menurun, padahal pendidikan dasar merupakan wahana pembentukan moralitas bangsa. Pendidikan tinggi tidak akan berhasil jika jenjang pendidikan dasar dan menengah tidak kuat," katanya.
Menurut dia, ada kecenderungan nasionalisme dalam diri peserta didik semakin pudar yang berakibat pada satu ketika kaum muda di perbatasan mengkhianati bangsa dan negaranya sendiri.
Banyak mahasiswa, katanya, begitu mudah menjual negara dan bangsanya di luar negeri, begitu pula tidak sedikit lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang "menggadaikan" bangsa Indonesia pada masyarakat internasional.
"Menjadi pertanyaan adalah apakah mungkin orang dari bangsa dan negara lain akan datang ke sini untuk mencintai Indonesia sementara kita sendiri tidak mencintai bangsa dan negara sendiri," katanya.
Memudarnya semangat nasionalisme kaum muda zaman ini, menurut dia, justeru disebabkan oleh kemunduran pendidikan moralitas dan nasionalisme bangsa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Koli Bau mengatakan, dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya dan perbatasan NTT akan semakin sulit apabila terjadi liberalisasi pendidikan. Mereka yang tidak siap akan dikorbankan oleh sistem yang berbasis kompetensi berdasarkan kepemilikan modal.
Apabila liberalisasi pendidikan di laksanakan, lanjut dia, maka Indonesia akan mengalami ketergantungan yang luar biasa pada pihak asing dan tidak tertutup kemungkinan terjadi imperialisme gaya baru yang berbasis pendidikan.
"Alasan untuk meningkatkan mutu pendidikan, akuntabilitas pendidikan dan sebagainya tidak lain hanyalah bahasa imperialisme yang sangat santun untuk menggiring dan menjebak Dunia Ketiga yang belum siap memasuki liberalisasi dunia pendidikan," katanya.
Di dalam situasi seperti ini, katanya, solidaritas sosial akan terancam dan bukan tidak mungkin dalam jangka panjang akan terjadi disintegrasi bangsa.
Menurut dia, dampak liberalisasi pendidikan di wilayah perbatasan NTT antara lain apabila pemilik modal asing menguasai sebagian besar "saham" pendidikan maka akan terjadi imperialisme baru yang lebih dasyat.
"Sebab penjajah tahu kalau pendidikan merupakan alat reproduksi sumberdaya manusia dan reproduksi kekuasaan yang paling handal," katanya. (*/erl)