"Kami menentang adanya anggapan bahwa kami melakukan dumping tepung terigu ke Indonesia," kata Juru Bicara Asosiasi Tepung Terigu Cina, Kwang Jian Hong di Jakarta, Jumat (27/5).
Kwang merupakan salah satu anggota delegasi pemerintah dan pengusaha Cina yang berkunjung ke Indonesia selama beberapa hari untuk membicarakan masalah perdagangan Indonesia dengan Cina. Delegasi itu dipimpin oleh Direktur Divisi Perdagangan Impor dan Ekspor Kementerian Perdagangan Cina, Cheng Yongru.
Dalam kunjungannya ke Indonesia mereka akan mengadakan pembicaraan dengan pejabat di lingkungan Departemen Keuangan dan Departemen Perdagangan.
Menurut Kwang, modal perusahaan pengolah gandum menjadi tepung terigu di Cina sepenuhnya merupakan modal pihak swasta sehingga semua perusahaan berupaya untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.
"Di Cina tidak ada dumping tepung terigu keluar negeri. Kami tidak setuju dengan pernyataan perusahaan di Indonesia bahwa kami melakukan dumping," kata Kwang yang juga General Manajer Four Gardener Mills Cina.
Ia menyebutkan, pangsa pasar gandum Cina di Indonesia dari tahun 1999 hingga 2004 selalu di bawah tiga persen per tahun atau tepatnya hanya 2,4% saja dari volume perdagangan terigu di Indonesia sebesar 3,2 juta metrik ton per tahun.
"Jumlah tepung terigu dari Cina sangat kecil, sementara pangsa pasar produsen dari Indonesia sendiri mencapai di atas 90%, jadi terigu dari Cina tidak merugikan industri di Indonesia," katanya.
Menurut dia, jika Pemerintah Indonesia benar-benar memberlakukan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dari Cina maka Pemerintah Indonesia benar-benar mendorong terjadinya monopoli dalam industri tepung terigu di Indonesia.
"Kami sedih dan kasihan terhadap konsumen di Indonesia yang harus membeli tepung terigu lebih mahal," kata Kwang.
Asosiasi Tepung Terigu di Cina, lanjut dia, juga akan menuntut Pemerintah Cina untuk mengambil tindakan tegas untuk memberlakukan kebijakan serupa terhadap produk impor dari Indonesia.
Kwang menyebutkan, selama ini Indonesia mengekspor minyak minyak sawit mentah ke Cina dengan harga yang sangat rendah yang memberatkan industri minyak sawit mentah di negeri itu, sehingga dapat saja pihaknya mendesak pemerintah Cina memberlakukan BMAD bagi produk tersebut.
"Ini bukan kabar yang baik bagi terigu Cina maupun bagi minyak sawit mentah Indonesia yang pada akhirnya akan merugikan konsumen. Karena itu baik Cina maupun Indonesia harus memberi perhatian terhadap masalah ini," katanya.
Sebelumnya Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) meminta pemerintah segera menerapkan BMAD kepada tepung terigu Cina dan India sesuai hasil akhir penyelidikan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI).
Aptindo merekomendasikan agar terigu asal dua negara itu dikenakan BMAD tetap sebesar 5,76% hingga 33,63%. (*/dar)