Lahan Persawahan 'Bekas' Tsunami Masih Subur

Kapanlagi.com - Sebagian besar lahan persawahan yang pernah terendam air dan lumpur akibat bencana alam tsunami, 26 Desember 2004, di sejumlah kawasan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itu kini masih subur dan bisa digarap kembali para petani di daerah itu.

"Hasil penelitian yang dilakukan beberapa waktu lalu menunjukkan areal persawahan yang pernah terendam air dan lumpur akibat tsunami itu sudah bisa digarap kembali, bahkan tanahnya bertambah subur," kata Wakil Kepala Dinas Pertanian dan Hltikutural Provinsi NAD, Teuku Thurmizi, kepada pers di Banda Aceh, Jumat.

Namun tanah eks rendaman air dan lumpur yang dibawa saat musibah gempa dan tsunami yang semakin subur itu berkadar garam rendah. "Lahan berkadar garam rendah itu terdapat di sebagian besar areal pertanian penduduk yang pernah terendam material yang dibawa saat bencana tsunami di NAD," tambahnya.

"Ternyata, material laut yang dibawa saat musibah tsunami itu membawa sejenis zat atau pupuk alam dan bisa diandalkan untuk peningkatan produktifitas komoditi pertanian Aceh kedepan," kata dia.

Lebih lanjut, Thurmizi menjelaskan bahwa puluhan hektare areal bekas rendaman material tsunami itu kini dalam uji coba penanaman kembali komoditi pertanian seperti jagung dan kacang tanah, yakni di Kabupaten Bireuen dengan areal seluas 600 hektare.

Tanaman jagung di lahan eks rendaman material tsunami di Bireuen itu menggunakan sistem pemakaian bibit dengan kapasitas 30 hingga 50 kilogram per-hektare. Jagung di lahan eks rendaman tsunami di Bireuen itu kini sedang menunggu waktu untuk dipanen, jelas dia.

Sementara di lahan seluas 5 hektare di kawasan Kecamatan Peukan Bada dan 20 Baitussalam, Aceh Besar, dengan komoditi jagung dan kacang tanah, yang penanamannya juga dilakukan di areal eks rendaman material tsuanami.

"Kami mengimbau para petani yang areal pertaniannya pernah terendam material tsunami, namun kadar garam yang dikandungnya rendah agar dapat mengfungsikan kembali lahannya,

Dipihak lain, tambah dia, Dinas Pertanian dan Holtikural Provinsi NAD bekerjasama dengan badan PBB yang membidangi masalah pertanian (FAO), telah menyalurkan bantuan pertanian kepada petani di 44 kecamatan dengan jumlah desa 311 desa diseluruh provinsi ujung paling barat Indonesia ini. (*/dar)

©2003-2007 KapanLagi.com