< >

Gerakan Bagi Pembaruan di Iran Belum Berhenti

Selasa, 31 Mei 2005 06:45
Kapanlagi.com - Sementara pemilihan presiden di Iran bulan depan diperkirakan akan memunculkan kelompok konservatif, mantan wakil presiden Iran mengatakan gerakan bagi perubahan belum berhenti.

Kendati jumlah prosentase warga yang berhak memilih rendah dan kelompok konservatif akan meraih kemenangan, Mohammad Ali Abtahi mengatakan bahwa pria yang terpilih untuk menggantikan Presiden Mohammad Khatami akan repot menjembatani gap yang makin lebar antara rejim Iran dan warga yang berhak memilih.

"Jika jumlah mereka yang berhak memilih rendah, ini bukan berarti bahwa rakyat menolak pembaruan yang diambil Khatami," kata Abtahi kepada kantor berita AFP.

"Ini bisa berarti bahwa mereka kecewa atau mereka menginginkan pembaruan yang lebih cepat," tambah ulama yang dikenal ceria itu.

Orang yang akan berkompetisi dengan Khatami adalah Akbar Hashemi Rafsanjani, mantan presiden dan sekaligus ulama utama Iran. Kendati konservatif, Rafsanjani merupakan tokoh yang bertipe lebih pragmatis.

Ia berjanji akan menyelamatkan Iran dari kubu "garis keras" -- yang tampaknya acuan kepada empat calon konservatif yang juga meramaikan kampanye yang diikuti delapan calon presiden itu.

Calon yang tetap reformis, Mostafa Moin, tampaknya berpeluang kecil untuk meraih kemenangan.

Tapi menurut Abtahi, yang mundur dari pemerintahan reformis tahun lalu, siapaun yang menang akan mendapat tekanan berat untuk mempertahankan jalur pembaruan yang diprakarsai Khatami.

Jika kelompok konservatif menang, menurut Abtahi, "pemerintah akan terlibat dalam konfrontasi atau beusaha untuk menyesuaikan diri."

"Namun kenyataannya adalah, konfrontasi dengan rakyat adalah pilihan yang merugikan. Siapapun yang akan menjadi presiden, saya memprediksikan bahwa tidak ada perubahan (negatif) yang besar dalam arti kebebasan individu, budaya dan sosial," tambah dia.

"Masyarakat akan tetap bergerak dan melakukan pekerjaan mereka. Mereka tidak menunggu izin dari pemerintah," ujar Abtahi.

Kesulitan Besar

Sementara kelompok reformis tampaknya menghadapi krisis -- dikeluarkan dari parlemen pada pemilihan yang kontroversil tahun lalu dan juga akan kehilangan posisi kepresidenan -- Abtahi mengatakan bahwa sayap-kanan Iran-lah yang akan menghadapi kesulitan yang lebih besar.

Melalui kepresidenan Khatami, kubu garis keras tetap memegang kekuasan yang lebih besar di badan legislatif, kehakiman, pasukan keamanan dan media yang diawasi pemerintah.

Namun selama delapan tahun terakhir, Khatami juga berperan sebagai tameng bagi lembaga rejim konservatif.

"Gerakan konservatif kemungkinan akan menghadapi krisis yang lebih serius, karena gerakan itu tetap menentang kebebasan sosial," kata Abtahi. (*/lpk)


KOMENTAR PEMBACA


Berita Yang Paling Banyak Mendapat Komentar