"Terutama untuk memenuhi kebutuhan kaum muda, kita memerlukan mekanisme baru," kata ulama berusia 70 tahun itu, yang dianggap sebagai calon favorit untuk menang dalam pemilihan umum presiden pada 17 Juni. Menunjuk pada keulamaan konservatif di Iran, Rafsanjani meyebut "pemikiran sempit" sebagai sebuah rintangan utama bagi pembangunan negara dan kebutuhan rakyat.
"Kembali dan menerapkan dogmatisme merupakan racun pada tahapan ini, sebaliknya kita harus menghadapi tantangan global baru dengan semangat kebebasan dan kebijakan kolektif," kata Rafsanjani dalam pidatonya yang paling liberal dalam kurun waktu 26 tahun terakhir.
Senin, Rafsanjani mendesak peningkatan undang-undang wanita yang sudah ada, yang akan melibatkan mereka dalam pembuatan keputusan nasional, meningkatkan peluang profesional mereka dan secara serentak memperkuat status mereka dalam keluarga.
Kampanye presiden telah menjadi ajang persaingan antara Rafsanjani, yang mewakili dirinya sendiri sebagai satu kekuatan moderat yang siap menerima perubahan, dan calon-calon sayap kanan yang kuat yang bertekad menyingkirkan reformasi.
Mewakili kamp reformis dalam pemilihan presiden itu adalah mantan Menteri Pendidikan Mostafa Moin yang berhaluan kiri, ulama tengah Mehdi Karoubi dan Wakil Presiden Mohsen Mehr-Alizadeh. Namun, mereka berisiko ditolak oleh para pemilih yang kecewa pada Presiden reformis Mohammad Khatami, yang gagal mendorong sebagian besar agendanya karena penentangan dari kelompok garis keras.
Calon-calon sayap kanan dalam pemilu itu adalah empat tokoh garis keras: Mohammad Baqer Qalibaf, Ali Larijani, Mahmud Ahmadi Nejad dan Mohsen Rezai -- semuanya veteran Garda Revolusi yang berhaluan keras.
Seluruh empat calon itu dipandang memiliki kedekatan ideologi dengan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, meski ia menyatakan Selasa bahwa ia tidak mendukung calon tertentu dalam pemilihan presiden itu. (*/tut)