Pogram pimpinan AS tersebut, yang dinamakan Prakarsa Keamanan Proliferasi (PSI), juga mencegah Iran mendapatkan peralatan dan bahan-bahan yang berkaitan dengan rudal balistik, kata jurubicara Deplu AS Richard Boucher. Ia menolak untuk menjelaskan lebih lanjut.
Boucher menjelaskan secara mendetail 11 kasus sukses yang dilaporkan Selasa pagi oleh Menlu AS Concoleezza Rice pada suatu upacara untuk memperingati perayaan tahun kedua program multilateral guna menghentikan perdagangan gelap senjata penghancur massal dan bahan-bahan serta teknologi pembuatnya.
Rice juga mengatakan, "Selama sembilan bulan terakhir ini, Amerika Serikat dan 10 mitra PSI kami telah cukup melakukan kerjasama dalam 11 usaha yang sukses. Kerjasama PSI menghentikan pengiriman bahan dan peralatan yang ditujukan bagi program-program rudal balistik di sejumlah negara yang berkepentingan, termasuk Iran."
Acara tersebut dihadiri oleh para duta besar dari Jepang, Singapura, Denmark dan para wakil lain di Deplu AS. Walaupun Rice menyebutkan 11 usaha yang sukses, Boucher menolak untuk memberi keterangan yang lebih terperinci, dengan menyebutkan adanya masalah intelijen yang sensitif. Namun ia hanya menyebutkan sedikitnya dua kasus yang melibatkan Iran dan Korut.
"Kerjasama bilateral dengan beberapa pemerintah membuat Korea Utara tidak dapat menerima bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan senjata kimia, dan kerjasama dengan negara lain memblokir pengiriman ke Korut bahan yang bermanfaat dalam program nuklirnya," ujar Boucher.
Dengan menyebutkan bahwa saat ini lebih dari 60 negara mendukung PSI, Rice mengatakan, "Perdagangan yang berbahaya dalam persenjataan penghancur massal hanya dapat dihentikan melalui upaya yang terkoordinasi dan berkelanjutan oleh masyarakat internasional."
Duta Besar Jepang untuk AS Ryoto Kato mengatakan, "Jepang bertekad untuk membuat PSI menjadi lebih efektif untuk menghentikan pengembangbiakan senjata-senjata yang mematikan." (*/tut)