< >

PLN Koreksi Data WG-PSR

Rabu, 01 Juni 2005 15:13
Kapanlagi.com - PT (Persero) PLN sedang mendalami data-data yang dimiliki dan dipublikasikan Working Group on Power Sector Restructuring (WG-PSR) yang menyebutkan, manajemen PLN diindikasikan telah menciptakan inefisiensi, yang menimbulkan potensi kerugian sekitar Rp6 triliun, sehingga perusahaan ini terus merugi dan tidak punya modal untuk investasi baru.

"Sekretaris perusahaan (Sekper) sedang bekerja, mencoba melihat kebenaran data-data itu. Biarlah Sekper yang memasak data itu, kemudian kita putuskan apa langkah-langkah yang perlu diambil selanjutnya," kata Direktur Usaha dan Pelayanan Pelanggan PT.PLN, Sunggu Anwar Aritonang di Makassar, Rabu (1/6), mengenai apakah PLN akan mempersoalkan secara hukum publikasi WG-PSR yang dinilai menyesatkan masyarakat itu.

"Saya nggak ngerti dan bingung, dari mana data inefisiensi Rp6 triliun itu. Saya memang pernah membaca data itu dalam sebuah perjalanan, dan baru halaman pertama saja saya baca, sudah banyak hal-hal yang tidak tepat di situ."

Contoh, disebutkan di situ bahwa pengadaan tanah untuk PLTGU Cilegon di-mark up sekitar Rp36 miliar, lalu proyeknya dimark-up Rp700 miliar.

"Saya bingung, dari mana data itu, karena tanah untuk PLTGU Cilegon itu adalah hibah, sementara proyeknya baru dimulai satu minggu lalu," ujarnya.

Ia berharap kepada seluruh stakeholder PLN, termasuk pers, agar memberikan kritik dengan data-data yang benar.

Karena publikasi kritik dengan data yang keliru, akan menyebabkan rakyat salah memberikan persepsi dan untuk memperbaiki kesalahan persepsi seperti itu, memerlukan waktu yang lama.

Dampak lainnya adalah terhadap calon-calon investor yang akan masuk dan bekerjasama dengan PLN, karena mereka akan bertanya: ada apa ini?.

Kalau sudah begitu, kita harus menambah kerja lagi untuk menjelaskan data-data yang tidak benar itu. Ini membutuhkan energi lagi, padahal kerjaan kita saat ini memang sudah overloaded ujarnya.

PLN, katanya, sedang dan terus berupaya secara maksimal untuk melakukan efisiensi di segala bidang, baik di bidang susut produksi maupun dalam program-program lainnya, dan itu sudah cukup berhasil.

Tahun 2004 misalnya, PLN menargetkan susut produksi paling tinggi 12% atau sekitar Rp8 triliun, ternyata bisa direalisasi sebesar 11,47%. Sedangkan tahun 2005, ditargetkan efisiensi 9,54% dari rencana penerimaan perusahaan Rp67 triliun.

"Dari hasil kunjungan saya ke daerah-daerah, seperti PLN Sulselra, saya puas karena program efisiensi ini berjalan dengan baik," tambahnya.

Mengenai kemungkinan naiknya tarif dasar listrik (TDL), Aritonang mengatakan, meski PLN menginginkan adanya kenaikan, namun pemerintah memutuskan bahwa belum akan ada kenaikan TDL tahun 2005 ini.

Ia mengakui, bahwa kenaikan harga BBM membuat biaya operasional PLN naik cukup tinggi, namun “Biarlah kesulitan-kesulitan yang dialami PLN saat ini cukup dibicarakan dengan pemerintah, selaku pemilik perusahaan. Yang penting, listrik masih menyala dan kualitasnya baik," ujarnya. (*/bun)