Pariwisata Indonesia Masih Bergelut Dengan Citra Tak Menguntungkan
Kapanlagi.com - Dunia pariwisata Indonesia saat ini masih bergelut dengan citra dan persepsi yang tidak menguntungkan dari dunia internasional, dengan seringkali sebut sebagai negara kurang aman, kata Asisten Deputi Promosi Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Syamsul Lussa di Jakarta, Rabu (1/6).Ia mengakui, citra Indonesia saat-saat ini disebut negara yang stabilitas keamanannya kurang terjamin, banyak kerusuhan hingga dianggap masih sering terjadi serangan bom. "Selain itu negeri kita ini dipersepsikan tidak nyaman karena berbagai alasan seperti banyaknya copet, taksi argo kuda, juga banyaknya tukang palak baik yang dilakukan preman maupun oknum berseragam, " katanya. Menurut dia, citra dan persepsi itu tidak hanya diungkapkan wisatawan asing, bahkan sering diungkapkan pula oleh wisatawan lokal. Ia mengatakan, sebetulnya Indonesia memiliki potensi besar sebagai tujuan wisata yang diminati di kawasan Asia Pasifik. Berdasarkan data Asia Market Research 2004, antara lain riset mengenai "Branding Asian Tourist", Bali, masuk dalam kategori tiga besar tujuan wisata yang paling diminati di bawah Singapura dan Hongkong. Sementara negara Indonesia secara keseluruhan sebagai negara tujuan wisata di Asia Pasifik masih menduduki peringkat 11. "Hal itu berarti Bali berada pada urutan ke-3 yang paling diingat orang ketika hendak berlibur, sementara Indonesia berada pada urutan ke-11. Ini bukan sebuah prestasi yang buruk sebenarnya. Tetapi yang tetap kita perbaiki yaitu mengapa wisatawan mancanegara (wisman) seolah-olah enggan masuk ke Indonesia, kecuali Bali," ungkapnya. Menurut Syamsul, segala kemungkinan perbaikan masih ada, karena pariwisata merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa, dan bangsa Indonesia pasti bisa meningkatkan dirinya dalam memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi wisatawan. Dalam tiga tahun terakhir, wisatawan yang datang ke Indonesia, rata-rata pada lima juta orang, sedangkan target wisman tahun 2005 sekitar enam juta orang, katanya. Travel Show Bangkok Syamsul mengatakan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dalam rangka melakukan sosialisasi serta penjajakan pasar, pada 15 - 19 Juni 2005 akan mengikuti "International Travel Show II" di Bangkok, Thailand, yang diselenggarakan bersamaan dengan "Thailand Travel Mart Plus" (TTM) di Bangkok, sebuah kompleks khusus tempat pertemuan dan pameran. Pada ITS I tahun 2004, kurang lebih 100 ribu pengunjung meramaikan pameran. Sebanyak 42 wakil dari berbagai negara termasuk Indonesia ikut terlibat secara langsung dalam mempresentasikan potensi pariwisatanya masing-masing. Sementara itu 350 jasa travel hadir untuk saling bertukar informasi sekaligus mengadakan transaksi dan 44 media pariwisata dunia meliput ITS I. Thailand, katanya, juga merupakan pasar yang potensial karena menurut data Budpar jumlah wisatawan Thailand yang datang ke Indonesia jumlahnya cukup signifikan, yang tercatat pada tahun 2004 jumlah wisatawan Thailand yg datang ke Indonesia adalah 44.166 orang. Faktor yang mendukung kedatangan wisatawan asal Thailand, khususnya karena adanya sejumlah penerbangan Thailand ke Indonesia, dan di Indonesia ada obyek wisata yang diminati wisatawan Thailand terutama wisata religius, seperti candi Borobudur dan candi lainnya yang berlatar belakang agama Budha. (*/dar) |