< >

Petani Kopi di Jatim Resah Rawannya Pencurian

Kamis, 02 Juni 2005 19:17
Kapanlagi.com - Para petani kopi di Jatim kini resah menyusul rawannya pencurian terhadap kebun kopi mereka setelah harga komoditi tersebut di pasar domestik maupun pasar internasional cenderung terus menguat.

"Harga sekarang memang sedang bagus. Tapi, kebun-kebun kini juga rawan pencurian," kata Hasan (60), petani kopi di Dampit, Malang, Kamis (2/6).

Para petani kopi di Dampit kini merasa lega karena harga kopi di pasar lokal maupun internasional cenderung terus menguat setelah sebelumnya harga komoditi tersebut lesu.

Harga kopi di tingkat petani di Dampit, Malang, Jatim, yang pada awal 2005 hanya berkisar Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram kini mampu menembus angka Rp10.500 per kilogram.

Sementara itu, harga kopi robusta di pasar London yang pada awal 2005 hanya US$750 dolar per ton kini sekitar US$1.175 per ton dan kopi arabika di pasar New York yang sebelumnya hanya US$2.000 per ton kini sekitar US$2.600 per ton.

Dengan menguatnya harga kopi tersebut, petani kopi di sejumlah sentra produksi, khususnya di Dampit, Malang, Jatim, merasa lega. Sebab, mereka kini dapat menikmati keuntungan dari hasil bertanam kopi.

"Berdasarkan hitungan, petani baru bisa menikmati keuntungan kalau harga kopi minimal Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Jadi, kalau sekarang bisa mencapai Rp10.500 per kilogram, petani benar-benar diuntungkan oleh kondisi ini," kata Hasan.

Namun demikian, lanjutnya, petani kini juga was-was karena rawan pencurian. Dengan demikian, hasil yang diterima petani bisa tidak maksimal karena dicuri.

Produktivitas kebun kopi milik petani di Dampit berkisar 750 kilogram hingga 1,1 ton per hektare. "Kalau sebagian dicuri, akhirnya petani juga tidak merasakan menguatnya harga kopi," katanya menambahkan. (*/dar)