Mitsubishi merencanakan menanamkan investasi proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan nilai investasi sebesar US$600 juta, yang memiliki kapasitas sekitar 600 mega watt.
"Untuk proyek PLTU Cilegon diperlukan investasi sebesar US$600 juta, untuk setidaknya menambah pasokan listrik yang kapasitasnya masih terbatas, terutama di Jawa dan Bali," jelasnya.
Menurut dia, karena kebutuhan listrik di Jawa dan Bali sangat besar mencapai 1.200 mega watt per tahun, maka investasi dari Mitsubishi tersebut diharapkan bisa menjadi solusi dalam mengatasi krisis listrik.
"Ini merupakan salah satu solusi karena kebutuhan listrik di Jawa dan Bali sangat besar, dan kita seperti kejar-kejaran dengan kebutuhan," katanya.
Akibat tidak ada pembangunan pembangkit listrik pada tahun-tahun sebelumnya, untuk tahun-tahun berikutnya harus dibangun lebih banyak pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.
Saat ini pihak PLN belum mampu memenuhi kebutuhan listrik di Jawa dan Bali. Sementara itu, cadangan yang adapun masih masih pas-pasan.
Sebenarnya, menurut Eddy, pada 2002 Indonesia sudah menawarkan kepada Mitsubishi untuk membangun proyek pembangkit listrik tenaga uap di Cilacap guna memenuhi kebutuhan listrik pada 2005.
Namun, perusahaan Jepang tersebut mengatakan tidak sanggup dan menyerahkan haknya kepada konsorsium Geodipa dan Sumber Segara Primadaya.
Mengomentari proyek pembangunan pembangkit listrik Paiton III dan IV, Eddy mengakui, masalah tersebut juga menjadi pembicaraan ketika di Amerika Serikat maupun di Jepang.
Paiton III dan IV adalah proyek pembangkit listrik pada era pemerintahan lalu, yang diarahkan untuk pengembangan dari Proyek Paiton I, yang bertujuan menurunkan lagi tarif ke PLN agar lebih rendah dari yang sekarang, katanya.
Eddy menolak untuk menjelaskan lebih jauh, apakah Proyek Paiton tersebut harus melalui proses tender. "Saya kira itu keputusan pemerintah. Kami hanya melaksanakan negosiasi," katanya.
Ia juga mengatakan, tingkat kebutuhan listrik nasional saat ini masih lebih rendah bila dibandingkan kebutuhan di negara tetangga. (*/bun)