"Ada wacana penggantian nama SFM menjadi Surabaya Lautan Musik agar gaungnya lebih luas dan lebih garang, namun ini perlu pengkajian mendalam," kata Kepala TBJ, Drs Pribadi Agus Santoso, MM kepada ANTARA di Surabaya, Jumat.
Ia mengakui bahwa dengan penggatian nama itu dikhawatirkan akan mempengaruhi kesan dan popularitas program yang sudah banyak mendapatkan dukungan di tingkat nasional maupun internasional tersebut.
"Makanya kami bicarakan dulu masalah ini. Nanti akan ada sarasehan pada tanggal 20 Juni ini dengan pembicara Slamet Abd Syukur. Gagasan merubah menjadi Surabaya Lautan Musik itu dari Pak Slamet. Nanti Pak Slamet akan presentasi, teman-teman musisi yang akan menanggapi," katanya.
Untuk pelaksanaan SFM tahun ini akan dilaksanakan 17 - 20 Juni yang dipusatkan komplek TBJ. Ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang banyak memanfaatkan kampus, terminal, stasiun dan plasa-plasa.
"Kami mencari suasana lain lah. Kalau dulu banyak di luar, tahun ini coba kami pusatkan di TBJ saja. Untuk tahun ini akan tampil sekitar 13 kelompok musik, dari Jatim maupun luar. Untuk Jatim, ada dari Banyuwangi, Tuban, Surabaya dan Blitar," katanya.
Beberapa propinsi lain ikut ambil bagian antara lain Bali, Bandung, Yogyakarta, Bengkulu dan lainnya. Konsep yang dipentaskan dalam SFM ini adalah musik etnik dari daerah masing-masing.
"Kami memang peduli untuk menggali kekayaan musik-musik etnik di tanah air ini. Untuk pemusik dari luar negeri yang pada tahun-tahun sebelumnya banyak tampil, tahun ini tidak ada. Kami memang fokus di dalam negeri saja," katanya. (*/erl)