Menurut laporan keuangan konsolidasi PT PLN (Persero) yang dipublikasikan, Jumat (3/6), penurunan itu antara lain disebabkan oleh meningkatnya pendapatan usaha dari penjualan listrik yang pada 2003 sebesar Rp49,8 triliun, menjadi Rp58,23 triliun tahun lalu.
BUMN tersebut juga berhasil menekan kerugian dari aktivitas normal. Jika pada 2003 kerugian aktivitas normal mencapai Rp7,58 triliun, pada 2004 turun menjadi Rp1,74 triliun. Selain itu, subsidi listrik juga mengalami penurunan dari Rp4,096 triliun menjadi Rp3,47 triliun.
Sementara jumlah beban usaha dilaporkan meningkat tipis dari Rp58,59 triliun menjadi Rp 59,71 triliun tahun lalu.
Peningkatan terjadi di beberapa sektor beban usaha antara lain, pengadaan bahan bakar dan pelumas, pembelian tenaga listrik, dan pemeliharaan. Beban usaha dari kepegawaian justru mengalami penurunan.
Untuk pembelian bahan bakar dan pelumas meningkat nilainya dari Rp21,48 triliun menjadi Rp24,49 triliun, pembelian tenaga listrik meningkat dari Rp10,84 triliun menjadi Rp11,97 triliun, dan beban pemeliharaan meningkat dari Rp4,83 triliun menjadi Rp5,2 triliun pada 2004. Sedangkan beban usaha kepegawaian pada 2004 mencapai Rp5,62 triliun.
Laporan yang ditandatangani oleh Direksi PLN pada 30 Mei 2005 itu disusun berdasarkan laporan keuangan konsolidasi yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Hans Tuanakotta Mustofa & Halim. (*/dar)