Dia mengatakan, referendum pada hari yang sama akan memutuskan tuntutan otonomi yang lebih besar bagi provinsi yang kaya akan sumber daya alam. Langkah ini mungkin akan memuaskan kedua belah kubu wilayah dan ideologi di Bolivia.
Hukum Kontroversial
Serikat pekerja dan kelompok warga asli menyerukan nasionalisasi gas Bolivia. Sebagian pengunjukrasa mendirikan penghalang jalan di dan sekitar kota utama, La Paz. Menurut mereka, undang-undang yang menaikkan kutipan pajak terhadap investor gas asing tidak memberi kendali yang cukup atas sumber daya alam negara itu.
Presiden Mesa mengatakan, undang-undang gas terlalu berat bagi perusahaan-perusahaan multinasional yang menanamkan modal miliaran dolar di ladang gas Bolivia. Beberapa pihak menyebutkan presiden Bolivia tidak mungkin memenuhi tuntutan pengunjukrasa agar menasionalisasikan sumber gas.
Pengunjukrasa dari kalangan penduduk asli juga ingin menghalangi kongres memberikan otonomi kepada provinsi kaya sumber daya di bagian selatan dan timur Bolivia. Kebijakan diumumkan Mesa setelah Kongres tidak mencapai kata sepakat mengenai jalan keluar krisis setelah bertemu selama tiga hari.
Anggota Kongres Bolivia menangguhkan sidang parlemen dan mengatakan mereka baru akan bertemu hari Selasa. Dalam pengumuman melalui televisi, Mesa mengatakan Bolivia tidak bisa menunggu. "Negara ini mengalami masa yang sangat kritis, situasi konfrontasional berisiko tinggi. Saya mendesak negara ini agar kembali tenang."
Presiden juga mendesak Gereja Katholik agar bertindak sebagai penengah di antara para tokoh politik dan sosial. Sengketa semacam menyebabkan tumbangnya pendahulu Mesa, Gonzalo Sanchez de Lozada, bulan Oktober 2003. Presiden bersumpah untuk menyelesaikan masa jabatannya, meski sering terjadi krisis politik.
Mesa didukung oleh angkatan bersenjata, yang pekan lalu memecat dua perwira setelah mereka mengaku mewakili gerakan nasionalis baru di tubuh militer. (bbc/tut)