< >

Hizbullah Diprediksi Menang di Lebanon Selatan

Senin, 06 Juni 2005 05:01
Kapanlagi.com - Pemilih dijadwalkan memberi suara Ahad pada babak kedua pemilihan umum nasional, yang bebas dari pengaruh Suriah setelah tiga dasawarsa dan koalisi anti-Israel pimpinan kelompok Muslim Syiah, Hizbullah, dipastikan akan menang.

Sebanyak 665.385 pemilih, yang berusia lebih 21 tahun, memenuhi syarat untuk memilih 23 anggota parlemen di dua daerah pemilihan di Lebanon Selatan. Tempat pemungutan suara dijadwalkan dibuka pukul 07:00 waktu setempat (11:00 WIB).

Apa yang disebut koalisi "Perlawanan, Pembebasan dan Pembangunan", yang terdiri atas Hizbullah dan faksi Syiah saingannya --Amal, diperkirakan akan menguasai hasil pemungutan suara, dengan janji akan melanjutkan perlawanan bersenjata terhadap Israel.

Kedua kelompok pro-Suriah tersebut, yang dengan gigih melancarkan perang gerilya melawan pendudukan Israel sampai penarikan tentara Israel tahun 2000, berharap akan mempertahankan pengaruh mereka di Lebanon Selatan, yang kadangkala masih diguncang oleh bentrokan perbatasan dengan Israel.

Hizbullah, satu-satunya kelompok bersenjata yang tak diharuskan meletakkan senjata setelah berakhirnya perang saudara 1995-1990 karena kelompok itu memelopori perlawanan, telah berikrar akan melanjutkan perjuangan bagi pembebasan wilayah perbatasan sengketa Pertanian Shebaa.

Namun satu resolusi Dewan Keamanan PBB yang disahkan September lalu menyerukan perlucutan senjata semua milisi di Lebanon --termasuk Hizbullah, yang tetap dimasukkan ke dalam daftar teroris oleh Amerika Serikat.

Amal dan Hizbullah, yang diperkirakan juga akan memperoleh kursi di wilayah lain dalam pemungutan empat babak di Lebanon, diduga masing-masing akan mengantungi 17 dan 12 kursi di parlemen yang memiliki 128 kursi.

Jumlah pemilih yang memberi suara mereka di Lebanon Selatan, yang masih merasakan kepedihan akibat beberapa dasawarsa pendudukan Israel, diperkirakan kurang dari 30 persen akibat kepastian kemenangan bagi koalisi "perlawanan" dan boikot oleh masyarakat Kristen dan Muslim Sunni.

Kekecewaan terhadap monopoli Hizbullah dan Amal serta penggunaan peraturan pemilihan umum yang diilhami oleh Suriah tahun 2000 membuat tokoh politik dan agama Kristen serta Sunni menyerukan boikot.

Dari 23 kursi yang diperebutkan, enam calon dari daftar yang ditaja Hizbullah sudah terpilih karena pesaing mereka tak muncul, dan hanya satu calon yang ikut bersaing.

Di antara mereka terdapat Bahia Al-Hariri, saudari mantan perdana menteri Ragiq Al-Hariri, yang terbunuh Februari --kejadian yang menyulut perlawanan rakyat dan membuat Suriah mengakhiri 29 tahun kehadiran militernya di Lebanon.

Rejim di Beirut dan pendukung politiknya, Suriah, dituduh bertanggung jawab atas terbunuhnya Rafiq Al-Hariri.

Pemungutan suara di Lebanon Selatan menandai tahap kedua dari empat babak pemungutan suara di seluruh negeri itu, yang dimulai akhir pekan lalu di Beirut dan dijadwalkan berlangsung sampai dua pekan lagi.

Warga Beirut juga gagal menyaksikan pertarungan dalam pemilihan umum, dan daftar putra Rafiq Al-Hariri, Saad, meraih kemenangan besar dalam pemungutan suara pertama sejak Suriah menarik tentaranya dari Lebanon. (*/rit)