< >

Partai Reformis Harapkan Mostafa Moin Maju ke Putaran Kedua

Senin, 06 Juni 2005 16:46
Kapanlagi.com - Partai reformis besar di Iran berharap kandidat presidennya, Mostafa Moin, dapat memperoleh suara yang cukup untuk maju ke putaran kedua, lalu menang melawan ulama konservatif pragmatis Akbar Hashemi Rafsanjani.

Pemimpin partai reformis besar di Iran, Mohammad Reza Khatami menyatakan Islamic Iran Participation Front (IIPF) akan melakukan kampanye besar-besaran menjelang Pemilu 17 Juni untuk merebut kemenangan dari Rafsanjani. Ia juga mengesampingkan peluang beberapa kandidat penantang dari garis keras.

"Mostafa Moin telah membuat kemajuan beberapa minggu terakhir ini. Kami sekarang percaya bahwa ia adalah pesaing utama Rafsanjani," kata Reza Khatami, yang juga menjadi pasangan Moin pada Pemilu nanti. "Tujuan utama kami adalah kemenangan."

Meskipun dianggap kekurangan dana untuk melakukan kampanye besar, markas kaum reformis itu telah sibuk mengadakan pertemuan-pertemuan kelompok akar rumput di seluruh negeri. Jajak pendapat informal menempatkan Rafsanjani di depan delapan kandidat lain.

Di tempat kedua adalah kandidat garis keras Mohammad Baqer Qalibaf, mantan kepala polisi nasional yang juga melakukan kampanye poster besar-besaran. Jajak pendapat tersebut menunjukkan bahwa Moin sejauh ini gagal untuk mengambil hati calon pemilih. Ia sebenarnya telah didiskualifikasi oleh Dewan Penjaga Islam (Guardian Council), namun diijinkan kembali untuk ikut serta.

Bahkan Moin belum memutuskan apakah akan terus mengikuti pemilu karena takut diserang oleh pemilih. Pemilu Iran telah dua kali memenangkan Presiden Mohammad Khatami dan pihak oposisi menyerang agenda Khatami di dalam sistem. Fokus utama reformis pada kebebasan sosial dianggap banyak warga Iran tidak penting karena isu itu mengesampingkan masalah kebutuhan pokok seperti pangan, roti dan mentega.

Namun kampanye belum sampai pada klimaksnya. Jajak pendapat yang dipublikasikan media Iran, banyak yang sangat tidak ilmiah, dan suara pelajar yang sangat berpengaruh -- yang krusial bagi kemenangan Presiden Khatami -- belum terpetakan.

Reza Khatami, yang juga adik presiden yang kini berkuasa, mengatakan masalah utama adalah kandidat presiden harus meraih 50 persen lebih suara untuk bisa langsung menang pada putaran pertama pemilu 17 Juni.

Dengan kampanye IIPF meraih momentumnya, Reza Khatami memperkirakan akan ada putaran kedua -- yang menempatkan Rafsanjani melawan Moin, penganut faham kiri mantan menteri pendidikan tinggi. "Jika itu terjadi, maka yang melakukan kampanye lebih baik akan menang, yakni kami."

Hal itu juga akan tergantung pada partisipasi pemilih. Reza Khatami mengatakan jumlah pemilih yang rendah tidak akan menguntungkan kedelapan kandidat, yaitu Rafsanjani, Moin, Qalibaf, tiga calon dari kelompok garis keras, satu reformis sederhana dan seorang ulama.

"Sekitar setengah dari mereka yang memiliki hak pilih tidak akan memilih, dan kami tidak akan mendapat presiden terpilih (pada putaran pertama) dengan jumlah pemilih yang sedikit," katanya. "Jika partisipasi pemilih sampai 40 persen, peluang reformis dan konservatif sama besar. Jika di atas itu maka reformis yang akan diuntungkan."

IIPF juga mengesampingkan peluang Qalibaf, yang juga mantan komandan Garda Revolusi -- pasukan ideologi republik islam yang sangat berpengaruh. "Warga Iran tidak akan memilih seorang prajurit, bukan pula seseorang yang akan menjadi sekretaris kabinetnya pemimpin besar Ayatollah Ali Khamenei," kata Reza Khatami.

Orang Iran juga awas terhadap situasi kawasan -- pergantian rejim yang penuh kekerasan di Afghanistan dan Irak, juga menegangnya hubungan antara pemimpin mereka dengan AS -- jadi tampaknya mereka tidak akan berpaling kepada pemimpin religius sayap kanan.

"Pemilu itu akan menjadi pemilihan presiden pertama dimana isu internasional sama pentingnya dengan isu domestik. Rejim tidak lagi bisa berbuat semaunya, dan dunia bebas akan mendorong demokrasi di kawasan kita," kata Reza Khatami.

Lebih jauh lagi, Ia mengatakan pemilih Iran juga dapat mengejutkan publik -- seperti saat memberi kemenangan mutlak untuk Presiden Khatami pada 1997. "Ini sama dengan delapan tahun lalu. Seorang pelajar bahkan bertanya kepada kakak saya mengapa ia mau saja bertahan," katanya. (*/tut)