Di sela-sela Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Gedung MPR/DPR Senayan Jakarta, Senin (6/6), Direktur Keuangan PT PLN Parno Isworo mengatakan, pada tahun 2006 TDL diasumsikan mengalami kenaikan 12% atau Rp70 menjadi Rp659 per Kilo Watt Hour (Kwh).
Sedangkan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2005, TDL ditargetkan sebesar Rp588 per Kwh, namun realisasinya sebesar Rp587 per Kwh.
Apabila pada tahun 2006 ada kenaikan TDL tersebut, maka pendapatan PLN akan meningkat dari Rp62 triliun menjadi Rp72 triliun.
Di sisi lain, pada tahun 2006 ada kemungkinan penurunan biaya-biaya untuk pembelian BBM, dengan catatan jika tiga pembangkit non-BBM seperti PLTGU Muara Karang, PLTU Cilacap dan PLTGU Cilegon, sudah bisa beroperasi.
Sementara itu, Direktur Utama PT PLN Eddie Widiono dalam jawaban tertulisnya kepada Komisi VII DPR menyatakan, di sistem kelistrikan Jawa-Bali, kondisi penurunan daya diharapkan akan berakhir setelah tiga pembangkit besar, yakni PLTGU Cilegon, PLTU Tanjung Jati B, dan PLTU Cilacap dapat beroperasi pada tahun 2006.
Selanjutnya, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lima tahun ke depan yang ditetapkan oeh pemerintah rata-rata sebesar 6,6% per tahun, maka pertumbuhan kebutuhan listrik di sistem Jawa-Bali diperkirakan mencapai 9% per tahun, yang memerlukan tambahan pembangkit kira-kira sebesar 3.000 MW per tahun.
Sedangkan untuk losses Kwh, pihak PLN akan melakukan beberapa langkah, di antaranya memperbaiki akurasi alat ukur transaksi jual beli listrik, membenahi sistem pencatatan meter dan sistem penagihan, penertiban sambungan liar serta mendorong penjualan Kwh lebih banyak di sisi tegangan menengah dan tegangan tinggi. (*/bun)