PLN Butuh Subsidi Rp12,7 Triliun Untuk Operasional BBM

Kapanlagi.com - Perusahaan Listrik Negara (PLN) tahun 2005 membutuhkan dana subsidi dari pemerintah sebesar Rp12,7 triliun, untuk menutup peningkatan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kata Dirut PT PLN Eddie Widiono.

"Padahal kebutuhan BBM untuk pengoperasian pembangkit listrik pada tahun 2005 juga meningkat dari 9,7 juta kilo liter menjadi 11,4 juta kiloliter, sehingga beban keuangan PLN semakin berat," kata Eddie Widiono saat berbicara pada acara penandatanganan kerjasama (MoU) antara PLN dengan Universitas Gajah Mada (UGM), di Yogyakarta, Selasa (7/6).

Asumsi yang dipakai ketika membuat Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) PLN 2005, menurut Eddie Widiono, harga pembelian BBM dicantumkan sebesar Rp2.200 per liter dengan kuota 8,4 juta kilo liter (kl).

Dengan perkiraan konsumsi BBM tahun ini mencapai 11,4 juta kl, sementara kuota yang diperoleh hanya 8,4 juta kl, maka kelebihan 2 juta kl harus dibeli PLN dengan harga pasar yaitu Rp4.000 per liter. Konsekwensinya biaya produksi PLN akan membengkak hingga Rp16 triliun, katanya.

Oleh karena itu, PLN mengharapkan agar pemerintah dapat menambah dana subsidi atau public service obligation (PSO) kepada PLN, dari rencana semula tahun 2005 sebesar Rp10,7 triliun menjadi Rp12,7 triliun.

Eddie menyatakan, peningkatan dana subsidi pembelian BBM diharapkan tidak terjadi lagi pada tahun depan sejalan, dengan rampungnya pembangunan tiga pembangkit listrik baru yang tidak menggunakan BBM yaitu PLTU Tanjung Jati, PLTG Cilegon dan PLTU Cilacap.

"Ketiga pembangkit tersebut menggunakan gas dan batubara, sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi," katanya.

"Industri kelistrikan ibarat urat nadi bagi bangsa ini. Negara-negara asing sangat berminat untuk menguasai sektor listrik, antara lain melalui pemberian utang luar negeri dalam jumlah yang sangat besar, sehingga lama kelamaan tak terbayar," katanya.

Atas dasar itu, ia mengingatkan agar PLN tidak ikut menjadi korban dari kegiatan neo-kolonialisme di bidang insutri kelistrikan.

"PLN akan terjebak selama masih tergantung kepada bahan bakar minyak dan gas untuk pengoperasian pembangkitnya. Jadi PLN harus terus melakukan diversifikasi energi," katanya.

Menurut Sofian, pihaknya siap untuk memberikan sumbangan bagi kegiatan diversifikasi itu, misalnya penyediaan tenaga-tenaga peneliti kelistrikan yang ada di UGM serta mendidik tenaga-tenaga PLN agar dapat lebih memahami kompleksitas yang ada di industri tersebut termasuk kondisi sosial politiknya. (*/bun)

©2003-2007 KapanLagi.com