"Di masa yang akan datang, kita akan membuat semacam rencana (road map) pengembangan telekomunikasi di Indonesia secara komprehensif, dengan melihat sejumlah faktor yang berkaitan," kata Basuki Yusuf di Bogor, Selasa (8/6).
Ia menilai, sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan telekomunikasi di Indonesia antara lain teknologi, industri yang kondusif bagi perkembangan telekomunikasi, peraturan dan melakukan inovasi.
"Ini sebuah industri yang dikendalikan oleh teknologi. Bila kita tak dapat membaca arah teknologi di masa yang akan datang, kita akan tertinggal," ujarnya.
Basuki yakin, para ahli teknologi informasi di Indonesia memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian, sehingga dapat memprediksi kebutuhan teknologi informasi di masa yang akan datang.
"Saya juga akan mengajak beberapa departemen, seperti departemen perindustrian dan kementerian riset dan teknologi, untuk bekerjasama dalam hal ini," kata Basuki.
Sementara itu, ketika disinggung perkembangan proses pengaturan gelombang untuk telepon selular generasi ketiga (3G), Basuki mengatakan, saat ini telah ada tim khusus yang menangani masalah tersebut.
"Sudah ada tim khusus yang bekerja secara intensif dengan pendekatan yang komprehensif dan mempertimbangkan segala aspek, sehingga keputusan yang diambil akan lebih baik dan menguntungkan semua pihak," ujarnya.
Menurutnya, tim itu masih bekerja dan akan memberikan laporan perkembangan hasil kerjanya ke Dirjen Postel sekitar pekan ini atau pekan depan.
"Kami masih menunggu laporan tim itu. Sementara untuk tender masalah tersebut kami belum tahu kapan. Itu semua tengah dikaji," kata Basuki.
Pemerintah membebankan pada operator Esia, pada 2008 harus mampu membangun tiga juta satuan sambungan telepon bagi masyarakat.
Acara tersebut selain dihadiri oleh Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya Bakrie dan Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar, juga hadir Walikota Bogor Diani Budhiarto dan Presiden Direktur Bakrie Brothers, Umar Gafur. (*/bun)