< >

Sumber Daya Ikan Laut Indonesia Dimanfaatkan 62% Saja

Rabu, 08 Juni 2005 09:47
Kapanlagi.com - Indonesia yang memiliki sekitar 17.000 pulau dan lautan yang mengelilinginya, menjadikan wilayah lautan Nusantara ini dua pertiga (2/3) dari total luas kepulauan dan merupakan ke-enam terbesar di dunia.

"Wilayah lautan tersebut memiliki potensi SDI (sumberdaya ikan) 6,7 ton, yakni 2,0 juta ton untuk ZEE Indonesia dan 4,7 juta ton untuk perairan teritorial Indonesia, dan hanya 62 persen yang dimanfaatkan," kata Dr Ir Ernani Lubis, DEA, dari Pusat Kajian Kepelabuhanan Perikanan dan Transportasi Maritim (PK2PTM) Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB), Selasa (7/6).

Hal itu disampaikan pada hari kedua Semiloka Internasional "Revitalisasi Dinamis Peran Pelabuhan Perikanan dan Perikanan Tangkap di Pulau Jawa dalam Pembangunan Perikanan Indonesia" yang diadakan PK2PTM LPPPM-IPB bersama "Universitet de Nantes", "Geolittomer-CNRS de Nantes" dan "Institut de Recherche Pour developpement (IRD)" Perancis, yang didukung Departemen Kelautan dan Perikanan RI serta Pemerintah Perancis.

Menurut Ernani Lubis, dengan data itu maka potensi dan peranan perikanan laut, terutama perikanan tangkap sangatlah penting untuk pembangunan kelautan dan perikanan Indonesia.

Ia mengatakan, prasarana yang sangat penting untuk mendorong dan menggerakkan perikanan tangkap tersebut adalah Pelabuhan Perikanan (PP) dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).

Tak dapat dipungkiri, Pulau Jawa merupakan wilayah sentral dan strategis bagi aktivitas perikanan tangkap di Indonesia ditinjau dari jumlah armada penangkapan, nelayan, industri pengolahan ikan dan potensi pasar serta prasarananya.

Karena itu, PP dan PPI, kata dia, merupakan titik-titik sentral pengembangan perikanan tangkap di Pulau Jawa, yang jumlahnya sekitar 250 unit atau 42% dari total 600 unit di Indonesia.

"Dapat dikatakan bahwa terdapat satu PP atau PPI pada setiap 7 Km panjang pantai dari ujung Barat sampau ujung Timur Pantai Utara Jawa," katanya.

Kini, pertanyaan krusialnya adalah bagaimana posisi aktual PP dan PPI serta perikanan tangkap di Pulau Jawa itu merespon perubahan dan tantangan global yang begitu cepat, baik di tingkat nasional dan internasional.

Maka diperlukan masukan dari negara lain yang sudah punya pengalaman mengelola SDI dengan sangat baik, yakni Perancis.

Kerjasama yang kemudian melahirkan munculnya atlas ilmiah tiga bahasa (Indonesia, Perancis dan Inggris), yang kini sedang dibahas dalam semiloka internasional itu, adalah upaya untuk mengungkapkan contoh kondisi aktual pengelolaan/pengembangan perikanan tangkap dan PP/PPI di Pulau Jawa.

Konteksnya, kata dia, adalah bagaimana PP/PPI itu posisinya di Indonesia, posisi perikanan tangkap Indonesia di dunia internasional dan berbagai analisis penting lainnya.

"Hasil semiloka internasional ini akan dimanfaatkan untuk menjawab perubahan dan tantangan global, tidak hanya bagi pembangunan perikanan tangkap dan PP/PPI di Pulau Jawa, namun juga dapat digunakan di berbagai daerah di Indonesia," katanya. (*/bun)