"Jumlah Rp732,9 miliar itu merupakan jumlah pinjaman yang diusulkan untuk dihapus tagih pada tahun 2005 dan bukan merupakan jumlah kredit yang dihapus bukukan pada tahun 2004," kata Dirut BRI Sofyan Basir, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu (8/6).
Ia menyebutkan, jumlah Rp732,9 miliar terdiri dari pinjaman yang telah ditetapkan sebagai piutang negara, sementara belum dapat ditagih atau PSBDT sebesar Rp43,8 miliar, perkiraan hapus tagih di Aceh sebesar Rp639,1 miliar dan prediksi PSBDT tahun 2005 sebesar Rp50Miliar.
Lebih lanjut Sofyan menjelaskan, jumlah Rp43,8 miliar merupakan pokok pinjaman BRI di seluruh Indonesia, yang dihapus dan telah mendapat status PSBDT dari Dirjen Piutang dan Lelang Negara sejak tahun 2003, sampai dengan 2004 dengan total debitur sebesar 1.017 debitur.
Sementara itu jumlah sebesar Rp639,1 miliar merupakan perkiraan rencana hapus tagih pinjaman di Propinsi Aceh dan sebagian Sumatera Utara (Nias) yang diperkirakan tidak dapat ditagih kembali.
"Pinjaman itu tidak dapat ditagih kembali karena debitur telah meninggal dan atau musnahnya usaha serta barang jaminan akibat bencana alam tsunami yang tidak memungkinkan piutangnya ditagih kembali," kata Sofyan.
Sedangkan jumlah sebesar Rp50miliar merupakan perkiraan PSBDT pada tahun 2005 untuk BRI seluruh Indonesia, dengan dasar tahun sebelumnya.
Dalam kesempatan tersebut Sofyan juga menjelaskan, jumlah kredit dilakukan dan kredit macet BRI selama 2004.
Untuk kredit Mikro yang pagu kreditnya hingga Rp50juta jumlah kredit diragukan mencapai Rp124,0 miliar, sedangkan yang macet sebesar Rp116,0 miliar.
Segmen kredit ritel dengan pagu kredit Rp50juta hingga Rp5miliar yang diragukan mencapai Rp138,3 miliar, sedangkan yang macet Rp290,3 miliar.
Sementara itu kredit menengah dengan pagu kredit diatas Rp5miliar yang diragukan Rp292,0 miliar, yang macet Rp514,2 miliar.
Sedangkan kredit program yang diragukan sebesar Rp12,5 miliar dan yang macet Rp40,8 miliar.
"Dengan demikian total kredit yang diragukan sebesar Rp566,8 miliar sedangkan yang macet Rp961,3 miliar," kata Sofyan Basir. (*/bun)