"Hasil analisa tim penyidik gabungan Polri dan AFP (Kepolisian Federal Australia) menunjukkan bahwa kiriman itu tidak terkait dengan Corby," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Aryanto Boedihardjo, di Jakarta, Rabu (08/06).
Ia juga mengatakan, berdasarkan pemeriksaan dan analisa mikro biologi terhadap bubuk itu oleh ahli kesehatan Australia Charles Guest juga tidak ditemukan adanya bakteri bacillus anthraxis yang berbahaya.
"Bubuk itu hanya tepung yang terkontaminasi bakteri yang biasa ditemukan di lingkungan seperti bacillus cereus dan bacillus alvei yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia," ujarnya.
Dalam penyelidikan bersama kedua kepolisian yang diberi nama sandi operasi Callisto itu, menurut Aryanto, juga menunjukkan bahwa pengirim mengerti tata Bahasa Indonesia dan diduga menggunakan kamus dalam merangkai kata-katanya.
Stempel atau cap perangko yang terdapat di surat itu dikirim dari Negara Bagian Victoria dengan perangko edisi Oktober-Desember 2003.
"Sidik jari yang ada di balik perangko masih dianalisa secara laboratoris. Sedang, sidik jari yang terdapat di kertas surat diperiksa dengan metoda yang lain," ujarnya.
Mabes Polri mengirimkan tiga perwiranya guna membantu penyelidikan teror surat itu.
Mereka adalah AKPB Tungguno dan Komisaris Polisi Munawardin yang keduanya dari Puslabfor dan AKPB Petrus Golese dari kesatuan cyber crime Polda Metro Jaya.
Selain itu, juga dikirim seorang ahli anthraks dari Departemen Pertanian. (*/lpk)