< >

Bolivia Terancam Perang Saudara

Kamis, 09 Juni 2005 08:28
Kapanlagi.com - Presiden Bolivia Carlos Mesa memperingatkan, Bolivia akan jatuh ke jurang perang saudara bila tidak segera menggelar pemilu. Peringatan itu diberikan satu hari setelah Carlos Mesa menawarkan pengunduran diri dari posisi presiden.

Ibukota La Paz diwarnai bentrokan antara pasukan keamanan dan pengunjuk rasa yang menuntut reformasi ekonomi dan hak yang lebih layak bagi penduduk asli. Berbagai laporan menyebutkan, tawaran pengunduran diri Carlos Mesa tampaknya justru makin membuat beringas pengunjuk rasa, bukannya meredam kekerasan.

Parlemen Bolivia akan bersidang Selasa untuk melakukan pemungutan suara atas tawaran mundur Carlos Mesa. Dalam pidatonya di televisi, Mesa mengkritik parlemen karena menunda pemungutan suara hingga hari Kamis, dan menekankan tidak akan membatalkan tawaran pengunduran dirinya.

Mesa juga akan mendesak pemimpin parlemen, Hormando Vaca Diez untuk membatalkan klaim konstitusionalnya untuk duduk di kursi presiden, dan ikut mendesak digelarnya pemilu. Secara konstitusional, Diez berhak untuk mengambil alih kepresidenan bila tawaran mundur Carlos Mesa dikabulkan parlemen, namun Diez sendiri sangat tidak populer di kalangan pengunjuk rasa.

"Negeri ini tidak bisa terus menerus bermain api dengan kemungkinan perpecahan. Satu-satunya jalan bagi Bolivia adalah proses pemilu secepatnya. Ini adalah permintaan dari presiden yang sedang dalam proses mengundurkan diri. Ini adalah desakan bagi sebuah negara yang berada di ambang perang saudara."

Pengunjuk rasa anti pemerintah Selasa terlibat bentrokan dengan polisi di ibukota La Paz, untuk melanjutkan kampanye yang dimulai beberapa minggu lalu dan hampir melumpuhkan seluruh negeri. Kekacauan di La Paz menyebabkan parlemen memutuskan untuk menggelar persidangan Kamis di kota Sucre, sekitar 600km dari La Paz.

Selasa, petani Indian miskin, petambang dan anggota serikat buruh terlibat bentrokan dengan polisi. Saat para pengunjuk rasa meledakkan dinamit, polisi anti huru-hara membalas dengan tembakan gas air mata sehingga memaksa pengunjuk rasa dan warga sipil untuk lari tunggang langgang mencari perlindungan.

Unjuk rasa itu sendiri terjadi sejak bulan lalu, setelah disahkannya undang-undang pajak bagi perusahaan asing yang menanamkan modal di industri cadangan gas Bolivia, yang dianggap sebagai terbesar kedua di Amerika Selatan. Pengunjuk rasa mengatakan, undang-undang itu tidak cukup bagus serta menuntut agar industri gas dinasionalisasikan.

Mereka juga menuntut reformasi konstitusional untuk memberi hak lebih besar bagi penduduk asli yang tinggal di dataran tinggi. Mereka menolak tuntutan propinsi Bolivia di sebelah Timur yang kaya sumber daya alam, untuk memberi otonomi dan modal asing yang lebih besar.

Carlos Mesa yang menjadi presiden 19 bulan lalu setelah pendahulunya dipaksa mundur oleh unjuk rasa yang sama tentang energi, mengumumkan pengunduran dirinya dalam pidato yang disiarkan saluran televisi pada hari Senin, setelah unjuk rasa massal satu hari sebelumnya. Mesa juga menawarkan pengunduran diri pada bulan Maret, namun tawaran itu ditolak parlemen Bolivia. (bbc/tut)