< >

Presiden Korsel Temui Bush untuk Bahas Korut

Kamis, 09 Juni 2005 16:46
Kapanlagi.com - Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun berangkat ke Washington, Kamis, untuk bertemu Presiden AS George W Bush guna membicarakan masalah nuklir Korea Utara dan mencari pendekatan yang lebih baik kepada masalah itu.

Seorang analis menyatakan tugas Roh dan Bush adalah untuk lebih mendekatkan diri setelah Pyongyang mengeluarkan pernyataan yang bisa memecah belah mereka dan menghindari tanggung jawab dari masalah nuklir tersebut.

Perbedaan tidak akan merusak hubungan Korsel-AS yang telah terjalin sejak Perang Korea 1950-53, namun saat ini hubungan tersebut agak tersendat karena generasi baru Korsel, khususnya dalam pemerintahan sang reformis Roh, mencoba mempertimbangkan kembali aliansi dengan AS.

"Saat Presiden Roh Moo-hyun dari Korsel bertemu Presiden Goerge W Bush dari AS pada 10 Juni di Washington, hubungan kedua negara akan lebih buruk dibandingkan saat warga AS dan Korsel bersama-sama berjuang, berdarah, dan tewas saat Perang Korea," tulis analis Richard Halloran dalam Surat Kabar Korsel JoongAng minggu ini.

Bahkan Roh sendiri menyatakan memang terdapat beberapa perbedaan. Namun ia mengatakan kepada komandan pasukan Korsel dan AS Rabu lalu, Washington dan Seoul sependapat dalam banyak hal, dan bahwa penduduk Korsel menyadari pertumbuhan perekonomian mereka, yang menjadi terbesar ketiga di Asia, adalah berkat dukungan AS.

Roh akan berangkat Kamis pukul 08.00 GMT dan kembali ke Seoul pada Jumat usai bertemu Bush. Karena terbatasnya waktu, sekitar satu jam dialog dilanjutkan makan siang, fokus Roh dan Bush adalah pada masalah Korea Utara. Analis dan para pejabat mengatakan kedua presiden harus menggunakan pertemuan keempat mereka itu untuk menunjukkan kebersamaan.

Dua sekutu itu menunggu tanda-tanda dari Korut untuk mengakhiri pemboikotan pembicaraan diplomatik enam negara yang telah berlangsung satu tahun ini. Mereka juga akan mencoba mencari tahu apakah Korut akan melakukan percobaan senjata nuklir.

Dalam sebuah retorika yang tampaknya diperhitungkan dengan matang, Wakil Menlu Korut Kim Kye-gwan mengatakan bahwa Pyongyang memiliki cukup bom atom untuk mempertahankan diri dari serangan AS dan juga sedang menyiapkan beberapa buah lagi.

"Kami telah kehilangan fokus dan itulah sebabnya Korut mampu menjalankan permainan ini dan mengeluarkan pernyataan itu," kata Balbina Hwang, ahli masalah Korea pada Heritage Foundation di Washington. "Korsel tidak mempercayai AS dan motivasinya, dan AS juga mulai tidak mempercayai Korsel dan motivasinya."

Saat mencoba mengatasi pertikaian nuklir yang muncul sejak Oktober 2003, Washington dan Seoul sering terdengar tidak satu suara meski menyatakan tujuan mereka sama yaitu untuk melucuti persenjataan nuklir Pyongyang.

Korsel menolak pembicaraan mengenai sanksi ekonomi atau langkah keras lainnya untuk menekan Pyongyang agar melucuti senjata nuklir mereka. Sependapat dengan sekutu Korut, Cina, Korsel mendesak AS untuk bersikap lebih fleksibel terhadap Korut.

Di AS, pernyataan Roh dan pejabat lainnya telah menimbulkan kekhawatiran bahwa Korsel akan berubah dari sekutu menjadi pihak netral, meski Korsel mengirimkan 3.500 tentaranya untuk mendukung pasukan AS di Irak.

Dua sekutu itu juga tengah memperbincangkan soal bagaimana 32.000 tentara AS akan bereaksi jika terjadi kekacauan di Korut dan terhadap konflik lain di kawasan Asia-Pasifik. Mereka juga berbeda pandangan soal perdagangan.

"Ada jurang yang lebar dan saat ini lebih lebar dari enam bulan lalu," kata Don Oberdorfer, peneliti dari John Hopkins School of Advanced International Studies dalam sebuah forum di Seoul, Rabu lalu. (*/tut)