< >

Masyarakat Belu Tuntut Kejelasan Kasus Penembakan TNI

Jum'at, 10 Juni 2005 19:00
Kapanlagi.com - Masyarakat Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menuntut kejelasan penanganan kasus penembakan prajurit TNI Lettu Art.Tedy Setiawan oleh Polisi Negara Timor Timur Unit Patroli Perbatasan (PNTL-BPU) pada 21 April di Daerah Aliran Sungai (DAS) Malibaca, Desa Makir.

Tuntutan itu disampaikan tokoh masyarakat Belu, Helio Catenao Moniz di Atambua, Jumat (10/06), sehubungan dengan pertemuan TNI, Polri dengan PNTL yang menurut rencana berlangsung di Markas Komando Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas), Atambua, Selasa (14/06) nanti.

"Pada 14 Juni nanti TNI dan Polri akan kembali bertemu dengan PNTL di Atambua. Untuk itu masyarakat Belu menuntut PNTL untuk memberikan pertanggungjawaban atas tindakan penembakan terhadap Lettu Art.Tedy," katanya.

Jika PNTL tidak bersedia memberikan penjelasan secara terbuka mengenai hal itu pada kesempatan pertemuan nanti, katanya, maka masyarakat Belu akan melakukan protes keras dalam berbagai bentuk tindakan, mulai dari pemberian pernyataan tertulis sampai pada unjuk rasa.

Bila perlu, kata dia, rakyat di perbatasan NTT menutup semua jalur perekonomian menuju Negara Timtim, baik jalur darat maupun laut.

Penembakan prajurit TNI pada 21 April lalu, menurutnya, merupakan tindakan yang mempermalukan bangsa Indonesia.

Menurut dia, dengan dibukanya pertemuan antara TNI, Polri dengan PNTL berarti perintah Komandan Korem 161/Wirasakti Kol.Inf.Amir Hamka Manan untuk menghentikan pertemuan rutin bulanan antara para penjaga keamanan perbatasan antarnegara RI dengan Timtim itu dinyatakan berakhir.

Danrem Kol.Inf.Amir Hamka, setelah penembakan Lettu Art.Tedy Setiawan (21/04) memerintahkan seluruh jajaran TNI yang bertugas di tapal batas NTT agar menghentikan semua pertemuan rutin bulanan dalam rangka koordinasi taktis perbatasan.

Jika pada 14 Juni nanti TNI dan Polri kembali duduk di meja perundingan maka itu berarti perintah Danrem tersebut dinyatakan berakhir.

"Masyarakat Belu dapat memberikan dukungan moril pada pertemuan itu jika PNTL bersedia menjelaskan secara terbuka alasan penembakan terhadap saudara kami Lettu Tedy Setiawan. hal ini penting demi tidak terulang kembali kejadian yang sama di wilayah tapal batas ini," katanya.

Sementara itu tokoh masyarakat lainnya, Drs Vincentius B.Loe mengatakan, sampai hari ini masyarakat Belu belum bisa menerima penembakan prajurit TNI Lettu Art.Tedy di DAS Malibaca, Desa Makir, Kecamatan Lamaknen pada 21 April lalu.

"Mengapa PNTL-BPU berani menembak prajurit TNI yang sedang bertugas menghadang penyelundup BBM asal Timtim. Padahal berdasarkan kesepakatan antara TNI dengan PNTL, di wilayah garis koordinasi taktis tidak diperkenankan melakukan penembakan," katanya.

Dia meminta TNI dan Polri agar terus mendesak PNTL-BPU untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka kepada bangsa Indonesia. Jika hal ini tidak dilakukan, rakyat Belu akan melakukan protes. (*/lpk)