"Saya sampaikan ke Panglima Tentara Malaysia untuk dalam waktu dekat, barangkali kita ingin mengadakan pertemuan untuk bisa lebih mengintensifkan dan mengekstensifkan patroli terkoordinasi," kata Endriartono usai bersama Panglima Angkatan Tentara Malaysia (ATM) Laksamana Tan Sri Dato` Sri Mohd. Anwar Bin H. Noor bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor Presiden, Jakarta, Jumat (10/06).
Hasil pertemuan tersebut diharapkan bisa memberikan jaminan rasa aman kepada semua negara atau kapal yang akan melewati Selat Malaka.
Panglima juga mengatakan bahwa pada tahun lalu ada keinginan dari Amerika Serikat untuk menempatkan pasukannya di Selat Malaka untuk memberikan bantuan pengamanan di salah satu selat tersibuk di dunia itu.
Namun, katanya, ketiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura ketiga negara telah sepakat untuk bertanggung jawab atas pengamanan di selat tersebut.
"Kita kemudian membentuk yang disebut patroli terkoordinasi Malsindo," katanya.
Namun, kata Panglima, hal itu tidak berarti tiga negara menutup adanya bantuan dari luar negara lain, namun harus dilihat bentuk dan cara bantuan tersebut.
"Kita bisa menerimanya sejauh bantuan-bantuan itu kita bicarakan dan disepakati oleh tiga negara," katanya.
Sebagai contoh, jika ada ancaman atau informasi ancaman di Selat Malaka, di mana ketiga negara dianggap belum mempunyai peralatan untuk mendeteksi adanya ancaman itu, maka negara lain yang ingin membantu memberikan peralatan dimungkinkan.
Hal yang tidak bisa diterima ketiga negara misalnya jika ada kapal suatu negara yang ingin melewati Selat Malaka dengan pengawalan kapal negara yang bersangkutan tanpa koordinasi dengan ketiga negara yang bertanggung jawab.
"Ini barangkali sesuatu yang kita hindari," katanya.
Sementara itu, Mohd. Anwar mengatakan bahwa perlu adanya pengkajian kembali terhadap patroli terkoordinasi tersebut sehingga kekurangan dalam patroli tersebut dapat diperbaiki.
Dengan adanya perbaikan terhadap operasi terkoordinasi tersebut, maka tidak ada ruang bagi negara lain seperti Amerika dan Jepang untuk melakukan pengaman di Selat Malaka.
"Jadi kami sepakat masalah (pengamanan, red) di Selat Malaka adalah tanggung jawab ketiga negara (Malaysia, Singapura dan Indonesia)," katanya. (*/lpk)