< >

Pembicaraan Damai Dimulai Lagi di Ibukota Darfur

Sabtu, 11 Juni 2005 09:19
Kapanlagi.com - Pembicaraan yang diperantarai-Uni Afrika untuk memecahkan perang saudara di wilayah Darfur di Sudan barat, yang telah menewaskan antara 180.000 dan 300.000 orang serta menelantarkan 2,4 juta orang, dimulai lagi Jumat setelah terhenti selama enam bulan.

Putaran baru yang berlangsung di Abuja itu membawa pemerintah Sudan berunding kembali dengan pemberontak Tentara Pembebasan Sudan (SLM) dan Gerakan Keadilan dan Persamaan (JEM). Pemimpin kelompok pemberontak, berturut-turut Mohammed Al-Nour dan Ibrahim Khalil, hadir untuk pertama kalinya, sedangkan Menteri Pertanian Majzoub al-Khalifa, sebagaimana biasa, memimpin pihak pemerintah.

Para utusan kemudian pindah untuk melakukan pertemuan di balik pintu tertutup guna menyusun agenda bagi pembicaraan, yang diperkirakan akan dimulai lagi sepenuhnya Sabtu. Kepala komisi AU Alpha Oumar Konare mengadakan pembicaraan tidak resmi dengan wakil ketiga pihak sebelum menyatakan pembicaraan itu dibuka.

Konare mengharapkan tahap pembicaraan ini akan menjadi tahap terakhir. Meskipun belum diketahui berapa lama pembicaraan akan berlangsung, sejumlah pejabat Uni Afrika (AU) mengatakan mereka tidak mengharapkan pembicaraan itu akan berlangsung lewat tiga pekan.

Pemimpin AU dan tuan rumah pembicaraan itu, Presiden Nigeria Olusegun Obasanjo, meminta pada semua pihak yang berperang untuk bekerja menuju perdamaian di Darfur dalam pidato yang dibacakan atas namanya oleh sekretaris pemerintah Uffot Ekaette.

"Tidak ada usaha yang akan dihindari oleh pihak-pihak itu dalam mencapai perjanjian mengenai penghentian serangan, intimidasi dan bentuk kekerasan lainnya terhadap warga sipil," katanya. "Semua pihak harus menahan diri dari kekerasan yang dapat membahayakan jiwa warga sipil yang tak berdosa dan mematuhi perjanjian yang telah diikuti."

Obasanjo sedang di luar Nigeria dalam perjalanan ke Eropa, tapi diperkirakan akan kembali Jumat malam. Utusan khusus AU untuk Sudan, Salim Ahmed Salim, yang memuji delegasi karena kehadiran mereka, meminta mereka untuk mencapai konsensus mengenai sejumlah masalah sebelum pembicaraan tersebut.

"Adalah harapan saya bahwa sidang imi akan konstruktif. Keputusan mengenai peranan pihak-pihak Sudan itu dalam konflik yang akan dibicarakan harus diuraikan karena hal itu menandakan keputusan mereka untuk menggerak-majukan proses tersebut," katanya.

Pwmbicaraan damai di Abuja yang dimulai Agustus 2004 ditangguhkan Desember untuk memungkinkan bagi konsultasi lagi di antara pihak-pihak yang berperang itu, yang saling menuduh telah melanggar perjanjian gencatan senjata.

Kekerasan itu meletus di Darfur Februari 2004 ketika pemerintah Khartoum mengikutkan milisi Arab yang terkenal sebagai Janjaweed dalam kampanye bumi-hangus untuk menumpas pemberontakan gerilyawan terhadap pemerintah.

Janjaweed dituduh melakukan pembersihan etnik, penyiksaan, pemerkosaan dan intimidasi terhadap minoritas penduduk hitam di Darfur bekerjasama diam-diam dengan pemerintah. Pengadilan kejahatan internasional (ICC) mengumumkan Senin bahwa pengadilan itu telah melancarkan penyelidikan terhadap kejahatan perang yang diduga dilakukan di wilayah Darfur.

Tindakan ini disambut baik oleh pemberontak tapi pemerintah memperingatkan bahwa hal itu dapat membahayakan langkah perdamaian. Para pejabat kemanusiaan memperingatkan bahwa situasi di Darfur semakin menyedihkan. Tidak cukup dana untuk menghadapi krisis yang diakibatkan oleh kekeringan, kelaparan dan dampak konflik jangka panjang, dan situasi itu diperburuk oleh bentrokan belakangan ini antara gerakan pemberontak.

Menurut misi AU di Darfur, bentrokan sengit antara SLM dan JEM pekan lalu menewaskan 11 orang sementara 17 orang yang lain terluka. Di Jenewa, Jumat, seorang pejabat Kantor PBB untuk Koordinasi Masalah Kemanusiaan, Elisabeth Byrs, mengatakan bahwa bantuan yang diterima untuk Darfur hanya cukup untuk 55 persen dari kebutuhan.

AU mengumumkan akhir bulan lalu uni itu telah menerima sumbangan US$292 juta. Namun organisasi itu menginginkan lebih dari US$460 juta tunai, peralatan militer dan dukungan logistik untuk mendorong pasukan AU yang akan mengawasi gencatan senjata di Darfur dari 2.700 tentara sekarang ini -- dari Nigeria dan Rwanda -- menjadi lebih dari 7.700 tentara pada September.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara dan Uni Eropa Kamis setuju bergerak dengan cepat untuk membantu meningkatkan pasukan penjaga perdamaian AU dengan pengangkutan sebanyak 5.000 tentara ke Darfur, mungkin secepatnya Juli.

Satu delegasi tinggi AU berada di Darfur akhir pekan lalu untuk menilai kebutuhan kemanusiaan, setelah Sekjen PBB Kofi Annan mengunjungi wilayah itu dan meminta masyarakat internasional menemukan penyelesaian cepat krisis itu. (*/tut)