< >

Rakyat Iran Khawatirkan Serangan Bom Baru Menjelang Pemilihan Presiden

Selasa, 14 Juni 2005 06:47
Kapanlagi.com - Rakyat Iran menyatakan kemarahan dan kecemasannya hari Senin akibat adanya serentetan serangan bom yang menewaskan sembilan orang dan mencederai lebih dari 70 orang menjelang pemilihan presiden.

Para pejabat menuduh serangan hari Minggu dilakukan oleh kelompok oposisi di pengasingan yang berusaha mencegah warga Iran melakukan pencoblosan.

Jumlah korban tewas akibat ledakan Minggu malam di pusat kota Teheran naik dua orang setelah satu orang meninggal akibat luka parah, kata Ali Aghamohammadi, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Ia mengatakan dua orang tetap masuk dalam daftar korban cedera gawat.

Para pekerja di baratdaya kota minyak, Ahvaz, kini memperbaiki pipa air, jaringan listrik dan bangunan yang rusak akibat empat ledakan di luar kantor pemerintah yang menewaskan tujuh orang dan melukai 70 orang yang lain.

"Saya tidak mau mencoblos. Saya takut ada ledakan lagi. Saya rasa hari Jumat merupakan hari yang sangat berbahaya," kata Ahmad Ali Yacoub, pegawai pemerintah berusia 36 tahun di Ahvaz.

Jajak pendapat menunjukkan Akbar Hashemi Rafsanjani, tokoh pragmatis yang berpengalaman, kini memimpin dalam kompetisi tersebut untuk menggantikan tokoh reformis Presiden Mohammad Khatami, yang gagal menghadapi perlawanan kelompok konservatif untuk melakukan pembaruan selama delapan tahun ia berkuasa.

Kendati ada kekecewaan yang meluas di antara kaum muda Iran, perebutan posisi teratas itu menarik karena muncul tokoh reformis Mostafa Moin dan pemilihan konservatif terpecah antara lima calon.

Para pemimpin Iran menginginkan partisipasi rakyat yang tinggi mengingat ada kritik dari dalam dan luar negeri tentang undang-undang pemilihan yang ketat.

Survei oleh radio pemerintah IRIB yang disiarkan hari Senin melaporkan bahwa 73% warga yang berhak memilih akan mencoblos dan 6,0% aliinya kemungkinan akan melakukan hal serupa.

Lawan Utama

"Kubu garis keras yakin akan meraih kemenangan, namun tampaknya jago terkuat adalah Rafsanjani dan Moin," kata Hamid Reza Jalaipour, dosen ilmu politik Universitas Teheran.

"Gerakan pembaruan telah bangkit dan rakyat yang apatis terhadap pemilihan mulai berpkir dua kali soal pemungutan suara, terutama setelah Moin masuk dalam jajaran calon presiden."

Perselisihan kelompok "garis keras" dengan Rafsanjani kemungkinan akan menimbulkan aksi kekerasan "seperti ledakan kemarin," ujar dia kepada kantor berita Reuters.

Namun yang lain menuduh beberapa kelompok seperti Organisasi Mujahidin Rakyat di pengasingan dan agen asing. "Mereka melakukan hal itu untuk menciptakan ketakutan dan ketidak-pastian di antara rakyat," kata Ghodraollah Alikhani, anggota komisi kebijakan luar negeri dan keamanan nasional pada parlemen Iran, kepada kantor berita mahasiswa ISNA.

Rafsanjani, presiden dari tahun 1989 hingga 1997 dan dilihat sebagai tokoh paling moderat pada calon konservatif, tetap membutuhkan 50% suara.

Jajak pendapat hari Sabtu menunjukkan bahaw Moin, satu dari tiga reformis dalam kompetisi itu, berada di posisi kedua di atas mantan kepala polisi Mohammad Bager Qalibaf.

Ledakan bom di Ahvaz dan Teheran menggncang negeri itu, dsan serangan itu seperti itu jarang terjadi dalam satu dekade terakhir.

Sekitar 20 wartawan asing yang diculik oleh kelompok Islam tertentu di lokasi pengeboman di Teheran dibebaskan Minggu malam setelah ditahan selama sekitar empat jam, kata salah satu sandera.

Dua bom lainnya meledak di pusat kota Teheran hari Minggu malam, tidak menimbulkan korban cedera.

"Sejauh ini kami telah menjinakkan empat bom di daerah yang berbeda," kata Aghamohammadi, tanpa mengatakan bagimana ia menemukan bom tersebut. (*/lpk)