Tingkat partisipasi itu telah mempengaruhi dipengaruhi seruan abstain oleh Gereja Katolik yang didukung Paus serta para pemilih apatis.
Undang-undang itu menolak sumbangan sperma dan telur serta melarang pemeriksaan embrio untuk mencari penyakit.
Legislasi itu membatasi jumlah embrio yang dibuat untuk setiap perawatan sampai tiga dimana semuanya harus dimasukkan dalam waktu yang sama.
Banyak pasangan tidak subur menginginkan anak mulai mencari bantuan ke luar negeri akibat aturan tersebut. Undang-undang melarang semua penelitian embrio.
Pembangkangan politisi
Penyelenggara jajak pendapat menyampaikan keputusan mengguncangkan mengenai referendum dalam surat kabar Italia hari Senin.
"Referendum telah tamat," ujar analis jajak pendapat Nicola Piepoli dalam La Republica.
Menteri bidang Persamaan Kesempatan Stefania Prestigiacomo, satu-satunya tokoh pemerintah yang berkampanye aktif untuk perubahan undang-undang itu menyuarakan prihatin bahwa kekalahan menyeluruh itu membahayakan undang-undang aborsi Italia karena sejumlah masalah tumpang tindih.
"Ketidakonsistenan sangatlah besar. Saya memperkirakan dalam jangka waktu pendek sampai menengah seseorang akan mengambil prakarsa," katanya kepada surat kabar Corriere della Serra.
Italia mensahkan perceraian dan aborsi dalam dua referendum bersejarah tahun 1974 dan 1981, keputusan yang tampaknya menunjukkan menurunnya pengaruh Gereja Katolik.
Pegiat kampanye "Ya" berharap bahwa pemungutan suara hari kedua akan mendorong rakyat Italia memberikan suaranya pada awal hari kerja.
Nurani yang tercerahkan
Undang-undang sekarang dirancang dan disahkan di tengah keprihatinan bahwa Italia akan menjadi salah satu negara paling liberal di dunia di bidang ini.
Sebelum undang-undang disahkan, dokter kandungan di Italia mampu membantu wanita berusia 60-an untuk hamil. Paus memuji uskup-uskup karena sikapnya terhadap pemungutan suara
Namun undang-undang itu dengan cepat mengubah Italia menjadi salah satu negara paling ketat untuk perawatan kesuburan.
Usku-uskup Italia dengan dukungan Paus Benediktus ke-16 yang baru mengatakan kepada negara mayoritas berpenduduk Katolik untuk memboikot pemungutan suara atas dasar moral dan mempertahankan statusquo.
Untuk menentang referendum, Kardinal Camillo Ruini, presiden uskup-uskup Italia, mengatakan Vatikan menghendaki "nurani yang tercerahkan" dan mempertahankan kehidupan. (bbc/rit)