Pria berusia 62 tahun itu disetujui dengan suara bulat untuk masa jabatan ketiga sebagai Direktur Jendral IAEA oleh dewan yang memiliki 35 anggota itu. Ia memimpin badan pengawas nuklir yang berpusat di Wina itu sejak 1997.
IAEA kini menghadapi "tantangan-tantangan besar," kata ElBaradei kepada wartawan. Ia akan berusaha membuat organisasi itu sebagai "pemain dunia" dalam upaya menghentikan perluasan senjata nuklir dan teror nuklir.
ElBaradei mengatakan bahwa selama perundingannya di Washington pekan lalu "kami tidak membahas masa silam dan tidak membahas pemilihan saya".
Pekan lalu, AS menghentikan penentangan terhadap pemilihan kembali ElBaradei, seorang diplomat Mesir, sebagai pemimpin IAEA untuk masa jabatan ketiga, sehingga membuka jalan bagi pengangkatannya tersebut.
Washington sebelumnya mengecam ElBaradei karena meragukan keberadaan senjata penghancur massal di Irak dan menyerukan langkah yang hati-hati dalam permasalahan menyangkut program nuklir Iran.
ElBaradei, yang pekan lalu bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice, mengatakan kepada wartawan, "Kami tidak membahas masa silam. Kami tidak membahas pemilihan saya. Kami sama-sama berharap. Kami sepakat bahwa kami memiliki banyak tujuan bersama."
"Kami menatap masa depan. Kami membahas permasalahan yang kami perlu tangani, khususnya bagaimana meningkatkan rejim non-proliferasi setelah" kegagalan konferensi non-proliferasi PBB bulan lalu di New York, kata ElBaradei mengenai pertemuannya dengan Rice itu.
Pemilihannya kembali Senin itu tertunda ketika delegasi Jepang memblokade sebuah perubahan dalam agenda sidang dewan gubernur IAEA, yang mengakibatkan sidang itu terhambat selama enam jam.
Pengangkatan kembali diplomat Mesir itu telah dipastikan pada awal pertemuan tersebut. Penentangan tak terduga Jepang terhadap pemilihan ElBaradei itu tidak bisa dipahami oleh utusan-utusan lain di dewan itu.
Semula, Jepang mengungkapkan minat untuk memegang pos ketua IAEA itu. Diplomat-diplomat Eropa menyatakan, penundaan pemungutan suara oleh Jepang itu melampaui konvensi diplomatik normal dan merupakan penghinaan terhadap ElBaradei. (*/rit)