Para wartawan dan tamu Rabu tengah malam menyaksikan bagaimana Pansy Nugit bernyanyi mengelilingi api unggun di tengah lobi utama kedubes, tempat pameran berlangsung, sementara kemenakan perempuannya, Rachel White, meniupkan air ke arah api untuk mengasapkan ruangan itu.
"Ini caranya mengusir arwah untuk memastikan bahwa mereka (arwah) tidak hadir ke dalam mimpi burukmu," kata Nugit, yang wajahnya penuh riasan tradisional berupa bintik-bintik cat putih, kepada AFP.
Upacara yang dihadiri duta besar Penelope Wensley itu menandai pembukaan pameran lukisan bertajuk "Mamaa:The Untouchable Ones" karya suku Aborigin, Ngarinyin, yang berasal dari barat laut Australia.
Menurut kepercayaan suku itu, roh yang menempati karya seni dapat menghantui mimpi orang yang melihatnya jika roh itu tidak iusir lewat upacara asap.
Kedubes Australia menjadi tuan rumah pameran tersebut untuk menarik perhatian publik atas sumbangan karya Aborigin, terutama dengan dibangunnya museum baru tentang seni primitif dari berbagai negara oleh Perancis.
Museum Quai Branlym, yang dibuka tahun depan, akan menampilkan ratusan koleksi lukisan dan artefak Aborigin yang dibuat delapan seniman Aorigin. (*/dar)