Masyarakat, dari berbagai usia, sudah antri di depan pintu masuk PRJ sejak Presiden Yudhoyono membuka acara yang dulu bertajuk 'Jakarta Fair (JF)' itu sekitar pukul 16:00 WIB yang kemudian dilanjutkan dengan peninjauan areal PRJ.
PRJ sendiri akan berlangsung selama sebulan mulai 16 Juni hingga 17 Juli 2005.
Untuk mengetahui apa saja yang "dijajakan" di arena PRJ 2005, masyarakat harus membayar karcis tanda masuk Rp10.000 pada hari Senin-Jumat, sementara Sabtu dan Minggu, mereka harus merogoh kocek lebih dalam yakni Rp15.000.
Namun panitia PRJ memberi kebijakan khusus kepada manula berusia di atas 60 tahun dan anak-anak di bawah tiga tahun dapat masuk dengan gratis dari pintu H dan C, tetapi harus mengurus izin di loket D.
Hal yang sama juga berlaku bagi anggota TNI dan Polri. Dengan menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) mereka dapat masuk secara gratis maksimal dua orang.
Hingga pukul 20:00 WIB pada hari pembukaan, Kamis (16/6) masyarakat sudah berbondong-bondong memasuki arena PRJ. Pameran digelar di gedung pusat niaga, hall A, B, C dan D, termasuk pelatarannya serta pasar Gambir.
Dalam acara pembukaan yang juga dihadiri oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono, Gubernur KDKI Sutiyoso dan sejumlah menteri kabinet, Ketua Ketua Panitia PRJ 2005, Siti Hartati Murdaya mengatakan PRJ kali ini diikuti oleh 830 peserta pameran.
Selain peserta pameran, JF juga melibatkan 20.000 tenaga kerja dari perusahaan peserta pameran dan hiburan.
PRJ 2005 menargetkan nilai transaksi hingga Rp400 miliar lebih atau meningkat 15-20% dibanding dengan nilai transaksi penyelenggaraan tahun lalu.
"Menurut laporan riset jumlah transaksi Jakarta Fair 2004 mencapai Rp389 miliar, untuk Jakarta Fair 2005 transaksi diperkirakan bisa meningkat sekitar 15-20% dari nilai tahun lalu," kata Hartati Murdaya.
Ia mengatakan, nilai transaksi sejumlah Rp389 miliar tersebut belum termasuk lanjutan negosiasi hasil dari JF. Bila termasuk dengan negosiasi yang terjadi setelah JF, nilai transaksi diperkirakan mencapai dua hinga tiga kali lipat dari nilai transaksi yang terjadi selama pameran.
"Transaksi dagang yang terjadi setelah jakarta fair sebagai kelanjutan negosiasi yang belum putus bisa mencapai 2-3 kali lipat atau sekitar Rp1 triliun," ujarnya.
Hartati juga mengatakan pengunjung tahun lalu mencapai 2,3 juta orang dan tahun ini ditargetkan mencapai 2,53 juta orang atau meningkat sekitar 10%.
Sedangkan pembiayaan penyelenggaraan pameran, menurut Hartati Murdaya "dilakukan dari kita, oleh kita dan untuk semua dan tidak menggunakan dana APBD".
Sementara itu, Presiden Yudhoyono dalam sambutannya mengatakan, JF hendaknya dijadikan ajang promosi perdagangan produk dan pariwisata Indonesia.
"Kegiatan ini bisa dijadikan wahana untuk mendorong investasi di dalam negeri," ujar Presiden Yudhoyono.
Ia juga mengharapkan kegiatan yang berlangsung selama 32 hari itu bisa menjadi bagian dari revitalisasi ekonomi Indonesia.
"Nanti pada gilirannya, bisa mengurangi jumlah pengangguran dan angka masyarakat miskin," katanya.
Penyelenggaraan PRJ 2005 merupakan penyelenggaraan ke-38 dan diikuti oleh 830 perusahaan peserta pameran.
PRJ pertama kali diselenggarakan di kawasan Monas pada 5 Juni-20 Juli 1968. Ide PRJ pertamakali digagas Gubernur Ali Sadikin.
Sebuah yayasan dengan nama Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta dibentuk sebagai badan pengelola PRJ sesuai dengan Perda No8 Tahun 1968.
Semenjak 1991, PRJ dipindahkan dari kawasan Monas yang hanya memiliki areal tujuh hektar ke kawasan Kemayoran dengan areal seluas 44 hektare.
Selain menampilkan sejumlah produk dalam negeri, JF juga dimeriahkan dengan penampilan sejumlah artis dan musisi yang setiap harinya akan mengisi panggung hiburan di kompleks JF. Sejumlah atraksi kesenian daerah khas Jakarta pun ditampilkan di program hiburan kampung Betawi. (*/erl)