"Ada dua topik pembahasan dalam pertemuan ini, yaitu kebijakan moneter dan konsolidasi perbankan. Untuk kebijakan moneter kita sepakat untuk terus bekerjasama mengurangi kerentanan keuangan di kawasan regional," kata Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah dalam jumpa pers usai acara tersebut.
Kesepakatan kerjasama itu, dilakukan karena EMEAP memandang bahwa semakin terintegrasinya sistem keuangan di kawasan regional berpotensi besar ikut mendorong terus berkembangnya pasar uang di kawasan EMEAP.
Namun, hal itu perlu diikuti upaya untuk mengurangi gangguan-gangguan pada stabilitas sistem keuangan masing-masing negara.
Untuk itu, bank sentral di negara-negara EMEAP akan terus mendiskusikan berbagai kemungkinan koordinasi kebijakan dan membangun jaring pengaman keuangan regional untuk meningkatkan ketahanan ekonomi kawasan regional dari tekanan eksternal.
Di Indonesia, Burhanuddin mengakui, masalah arus modal jangka pendek dan kestabilan nilai tukar juga menjadi salah satu fokus dalam pelaksanaan kebijakan moneter, karena kerap menimbulkan dilema dalam operasional kebijakan.
Sementara mengenai pembahasan konsolidasi perbankan, EMEAP menilai bahwa efektivitas kebijakan moneter mensyaratkan adanya sistem keuangan yang sehat dan stabil, sehingga diperlukan langkah memperkuat sistem keuangan di masing-masing negara.
"Konsolidasi perbankan adalah salah satu langkah yang ditempuh negara-negara EMEAP untuk membangun sistem keuangannya," katanya.
Dalam pertemuan itu, Filipina, Jepang dan Cina mempresentasikan langkah-langkah yang mereka lakukan dan menyatakan bahwa konsolidasi perbankan adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan apabila perbankan ingin bertahan di era persaingan global.
Sementara itu Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S.Gultom dalam kesempatan itu mengatakan kebijakan moneter yang ditempuh BI senantiasa menyeimbangkan antara target inflasi dan pertumbuhan ekonomi dengan secara bertahap mengarahkan inflasi pada level yang rendah dan stabil dalam jangka menengah dan panjang.
Pada akhir Juni nanti, lanjutnya, BI akan mengumumkan perubahan kerangka kerja dalam kebijakan moneter yang dinamakan "inflation targeting framework".
Dengan kebijakan itu, lanjutnya, mulai Juli 2005 BI akan menggunakan suku bunga sebagai instrumen operasional.
Hadir dalam EMEAP ke-10 ini adalah, Gubernur Bank Sentral Australia Ian Macfarlane, Gubernur Bank Sentral China Zhou Xiaochuan, Gubernur Bank Sentral Hongkong Joseph Yam, Gubernur Bank Sentral Jepang Toshihiko Fukui, Gubernur Bank Sentral Singapura Hang Swee Keat, Gubernur Bank Sentral Korea Selatan Seung Park, Gubernur Bank Sentral Malaysia Zeti Akhtar Azis, Gubernur Bank Sentral Selandia Baru Alan Bollard, Deputi Gubernur Bank Sentral Filipina Nestor A Espenilla dan Gubernur Bank Sentral Thailand Pridiyathorn Devakula. (*/lpk)