< >

Pemerintah Serahkan Secara Resmi Dua Sandera Kepada Pihak Keluarga

Minggu, 19 Juni 2005 09:02
Kapanlagi.com - Pemerintah Indonesia melalui Departemen Luar Negeri, menyerahkan secara resmi dua orang WNI yang sebelumnya disandera kelompok yang menamankan dirinya Jammi Al Islamiyah Mindanao Selatan, kepada keluarga mereka masing-masing, di Jakarta, Sabtu (18/06).

Kedua sandera WNI masing-masing Yamin Labuso (26) dan Erikson Hutagaol (23) itu dibebaskan oleh militer Filipina dari penyanderaan kelompok yang menamakan diri mereka Jammi Al Islamiah Mindanao Selatan.

Penyerahan kedua sandera itu dilakukan melalui penandatanganan berita acara serah terima di Gedung Deplu Pejambon Jakarta, Sabtu (18/06), disaksikan oleh Menlu Hassan Wirajuda.

Dari pihak Deplu, Ketua Tim Pokja Deplu yang menangani upaya pembebasan sandera yaitu Triono Wibowo melakukan penandatanganan berita acara tersebut sementara dari pihak keluarga yaitu Yamin Labuso diwakili oleh istrinya Ramelah sedangkan Erikson Hutagaol diwakili oleh ayahnya Mahanan Udin Hutagaol.

Acara serah terima itu selain dihadiri oleh para pimpinan Pokja Deplu juga disaksikan oleh pimpinan dan anggota Komisi I DPR RI.

Yamin dan Erikson adalah dua dari tiga WNI yang merupakan anak buah kapal tunda (tugboat) "Bonggaya 91" milik perusahaan Malaysia, yang diculik di perairan perbatasan Sabah, Malaysia dan Filipina, pada 30 Maret lalu.

Dalam sambutannya Menteri Hassan Wirajuda mengucapkan selamat atas kembalinya Yamin dan Erikson ke keluarga mereka, namun pada saat yang sama menyatakan keprihatinan Indonesia karena satu sandera lainnya yaitu Ahmad Resmiadi belum bebas dari penyanderaan.

Menlu juga menyampaikan ucapan selamat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena Yamin dan Erikson telah kembali ke tengah-tengah keluarga mereka.

Menlu juga mengungkapkan bahwa Presiden pada Sabtu (18/6) ini tidak dapat menerima kedua WNI tersebut di Istana Negara Jakarta, karena sedang ada kegiatan di luar kota.

Khususnya kepada keluarga Resmiadi, Menlu menyatakan bahwa pemerintah menjamin akan terus berupaya secara sungguh-sungguh dalam membebaskan Resmiadi. "Namun upaya pembebasannya tidak semudah yang diiinginkan," katanya.

Hadir dalam acara serah terima tersebut, selain keluarga Yamin Labuso, juga keluarga Ahmad Resmiadi, termasuk Ibunya yaitu Ny Jami (55) dan Ayahnya Hardi (65).

Hassan mengatakan Pemerintah Indonesia terus menempuh beberapa jalur kontak dengan pemerintah Filipina.

Sebelum pembebasan Yamin dan Erikson, Indoneisia telah melakukan komunikasi langsung antara Menlu Hassan dan Menlu Filipina serta antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Filipina untuk mengupayakan pembebasan sandera WNI dengan segera.

Menlu juga menyatakan sejak awal telah mengingatkan agar dalam pembebasan sandera operasi Militer dinomor duakan karena khawatir keselamatan para sandera terancam.

Namun, ujarnya, Angkatan Bersenjata Filipina telah memberikan jaminan bahwa mereka akan sekuat tenaga dan penuh kehati-hatian menjalankan upaya pembebasan para sandera WNI.

Sementara itu, Yamin Labuso dan Erikson yang ditanyai wartawan usai penyerahan mereka secara resmi, belum tahu kondisi terakhir Resmiadi.

Mereka hanya mengatakan masih bertemu Resmiadi 15 hari sebelum dibebaskan tanggal 12 Juni.

Menurut mereka, saat itu kondisi Resmiadi dalam keadaan baik, namun tidak mengetahui keberadaannya.

Sementara itu ketika ditanya apakah keduanya akan melanjutkan pekerjaannya menjadi pelaut dengan kapal milik perusahaan Malaysia tersebut yaitu Bonggaya 91, keduanya menyatakan untuk sementara akan beristirahat terlebih dahulu.

Namun Erikson bahkan menyatakan dirinya "tobat" tidak mau melaut lagi.

Sementara itu Triono Wibowo mengungkapkan kedua awak kapal Bonggaya 91 itu seperti yang diungkapkan perusahaan Malaysia (pemilik kapal) akan terus menerima gaji penuh sampai enam bulan sejak mereka disandera pada 30 Maret.

Pihak perusahaan juga tetap membuka diri jika keduanya ingin kembali bekerja pada perusahaan yang sama.

Mereka berangkat ke RI Sabtu pagi pukul 08.00 waktu Manila dengan Singapore Air Line dengan nomor penerbangan SQ 158 yang tiba di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 13:20 WIB.

Mereka dijemput antara lain oleh Direktur Perlindungan WNI Ferry Adamhar. (*/lpk)