"Bukan hanya pariwisata tapi seluruh kegiatan ekonomi sosial dan budaya akan mundur beberapa tahun," kata Presiden saat memberikan sambutan pada pembukaan Pesta Kesenian Bali XXVII di Denpasar, Sabtu (18/06).
Presiden mengatakan, akibat dari peledakan bom itu yang menderita dan mengalami kerugian adalah seluruh rakyat.
Pemerintah, katanya, telah bertekad untuk mencegah dan memberantas berbagai kejahatan transnasional termasuk terorisme agar tercipta suasana aman dan damai di tengah masyarakat.
Pesta Kesenian Bali, menurut Presiden, merupakan upaya untuk meningkatkan pariwisata. Jika ingin meningkatkan kegiatan pariwisata maka perlu menjaga keamanan di dalam negeri. Oleh sebab itu Kepala Negara menyerukan kepada masyarakat untuk turut serta memelihara rasa aman dan damai.
"Bom Bali yang terjadi pada Oktober 2002 harus dijadikan bahan instropeksi diri. Terosisme dapat terjadi di mana saja dan kapan saja jika kita lengah dan kurang waspada," ujar Presiden.
Presiden juga menegaskan bahwa terorisme tidak ada kaitannya dengan ajaran atau pemeluk agama tertentu.
"Terorisme adalah terorime. Terorisme adalah kejahatan kemanusiaan yang harus diberantas," kata Presiden.
Dari berbagai peristiwa di dunia, kata Presiden, dapat disaksikan bahwa terorisme dapat muncul di mana saja dan dapat dilakukan oleh bangsa dan pemeluk agama apa saja. Oleh sebab itu Presiden meminta masyarakat Bali untuk memelihara kerukunan antar pemeluk agama.
"Saya percaya masyakarat Bali adalah masyarakat yang toleran dan terbuka. Sikap seperti itu menjadi modal yang penting bagi masyarakat untuk maju," kata Presiden. (*/lpk)