Sudah dibayangkan sejak awal, pameran yang berlangsung pada 14-17 Juni 2005 itu, akan diserbu pengunjung bukan saja dari negara-negara Asia tetapi juga Eropa maupun dari Benua Amerika.
CommunicAsia yang ke-16 ini menyedot pengunjung lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena menampilkan teknologi dari tiga jenis segmen industri sekaligus, yaitu tekomunikasi, enterprise, dan broadcast.
Wartawan ANTARA yang berksempatan meliput pameran CommunicAsia itu, melihat betapa perang teknologi komunikasi yang telah ditabuh beberapa tahun antara perusahaan penyedia jaringan telekomunikasi (vendor), produsen terminal telepon (handset), hingga operator telekomunikasi.
"Hasilnya, siapa menang siapa kalah" tentu tergantung pada persepsi pengguna telekomunikasi.
Hampir seluruh `vendor handset` mengklaim memiliki produk pendukung 3G yang mampu mengaplikasikan komunikasi yang memungkinkan pengguna telepon secara bersamaan dapat berkomunikasi, menarik data, `video streaming`, dan aplikasi lainnya.
Di ponsel kelas atas, fitur yang ditampilkan semakin bervariatif. Tak hanya sekadar penyambung suara, ponsel itu sudah berfungsi pula sebagai alat hiburan.
Bayangkan, ada ponsel bisa dipakai untuk menonton film, memutar lagu, merekam video, memotret sampai dengan mengakses internet. Dengan kata lain, ponsel sudah bisa mengerjakan tugas yang biasanya adalah bagiannya `tugas` komputer, kamera, kamera video dan walkman.
Sungguh luar biasa! Ponsel kelas atas kini telah dilengkapi pula dengan kapasitas rekaman video sampai dua jam berikut kamera `bult-in` dengan resolusi sampai dua megapixel.
Dipastikan, para vendor yang saling adu kekuatan itu tidak lain adalah raksasa telekomunikasi, seperti Nokia, Motorola, Siemens, Sony Ericsson, Samsung, dan Panasonic.
Sebut raksasa elektronik Panasonic dari Jepang ikut hadir dengan memamerkan ponsel VS2, yang diklaim sebagai ponsel paling ramping di jajarannya. Tebalnya sekitar 12 mm, dengan berat 98 gram, ponsel berbentuk cangkang kerang (calmshell) dilengkapi dengan kamera digital 1,3 megapixel dengan jangkauan 4xzoom sehingga dengan image tersebut hasil tangkapan kamera tidak pecah.
Tidak kalah canggih, VS2 memiliki resolusi layar yang mencapai 16 juta warna, jauh lebih tinggi dari resolusi layar ponsel pada umumnya di bawah sekitar 500.000 warna.
Di lokasi pameran yang setiap harinya dimulai pukul 09.00 waktu setempat itu, konsentrasi penunjung terlihat pada "booth" yang unik dengan memamerkan kecanggihan teknologi.
Tiga vendor ponsel yang berseteru berusaha tampil beda, yaitu Motorolla, LG, Sony Ericsson, sedangkan yang lain seperti Siemens meski boothnya cukup luas namun tidak menampilkan acara yang menarik pengunjung.
Samsung yang membalut penampilan boothnya dengan nuansa ungu muda yang terkesan feminin. Hal itu untuk mendukung ponsel yang dipamerkan yaitu SGH-E530 bertajuk "women life function".
Ponsel produk asal Korea Selatan ini, dilengkapi dengan kamera 1Mega pixel, video recording (MPEG4) serta MP3 player yang dibisa dijadikan nada panggil, ditambah dengan kemampuan MMS, Java, WAP 2.0 dan e-mail.
Berbeda dengan Motorola, produsen asal Amerika Serikat ini, menampilkan panggung dominasi hitam seakan menggambarkan detail kekuatan produknya.
Jika dihitung-hitung stand Motorola merupakan paling banyak diminati pengunjung, karena selain mendapatkan berbagai souvenir cantik, pengunjung juga dapat berinteraksi dengan penjaga stand, apalagi di sana terdapat berbagai `games` menarik.
Salah satu teknologi yang dipamerkan pada booth Motorola adalah tipe RAZR V3 yang merupakan Ponsel Terbaik 2005 versi Asian MobileNews di Singapura beberapa waktu lalu.
"Melalui RAZR V3, Motorola telah mengubah persepsi kami mengenai desain ponsel," kata Allen Burnes, VP Mobile Devices (MD), High Growth Markets, Motorola Inc.
Selain itu, Motorola juga menampilkan tipe PEBL V6 ponsel dengan fitur capture dan playback MPEG4, kamera dengan resolusi VGA, picture caller ID, MMS serta e-mail (POP3, SMTP, IMAP4). Ponsel ini dilengkapi pula dengan browser WAP 2.0 , bluetooth dan memori sebesar 5 Mb.
Allen juga menegaskan, Motorola juga berencana meluncurkan tipe SLVR V8, yang diharapkan menjadi ponsel inspirasional merebut hati para pengguna baru ponsel Motorola di dunia.
Sementara itu, Sony Ericsson lebih memilih warna putih, hijau dan sedikit oranye seolah menyatukan budaya timur dan barat.
Ponsel Z800i dan K600i yang memiliki kemampuan seluler 3G, dapat dicoba di lokasi pameran. Antusias juga terlihat dari pengunjung yang di negaranya belum mengaplikasikan 3G.
Menurut Product Marketing Manager Sony Ericsson, banyak pengunjung yang menguji kecanggihan Z800i yang dirilis bersamaan dengan penyelenggaraan Communicasia 2005 ini, sedangkan K600i telah diluncurkan sekitar akhir Mei 2005.
Z800i dilengkapi oleh dual-LCD, ponsel ini memiliki kapabilitas kamera 1,3 Megapixel dengan 4x digital zoom, MP3 player yang diperkuat dengan sistem audio Sony Mega Bass, memori 64 MB dan dapat ditingkatkan menjadi 2 GB menggunakan memory stick pro duo.
Nokia ?
Bagaimana dengan Nokia? Raksasa ponsel dari Finlandia ini ternyata membuat jurus jitu. Produsen ponsel yang makin populer ini justru tidak melakukan pameran di CommunicAsia, melainkan di salah satu hotel berbintang di Singapura.
Pada kesempatan itu, Nokia meluncurkan rujuh unit hanset terbaru dari rencana melempar produk ke pasar sebanyak 40 model selama 2005.
Termasuk dalam jajaran model-model anyar ini adalah telepon selular (ponsel) dengan desain tutup yang meluncur atau slide-open dan kamera yang beresolusi 2 megapixels.
Produsen terbesar ponsel tersebut, diyakini mampu bersaing di pasar Amerika Serikat. Apalagi tiga dari tujuh model keluaran Nokia itu menggunakan teknologi CDMA, yang notabene cukup banyak digunakan di Amerika Serikat dan Asia.
Satu dari tiga ponsel yang terjual di dunia adalah ponsel keluaran Nokia. Pekan lalu Nokia meluncurkan dua tipe ponsel CDMA-nya di Indonesia (Nokia 2116 dan Nokia 6235).
Jaringan 3G
Meski menampilkan produk yang serba canggih, namun CommunicAsia tentu juga membicarakan sistem jaringan yang mendukung layanan 3G, baik jaringan GSM ataupun CDMA.
Sistem CDMA yang mulai populer adalah CDMA450 yang berjalan di frekuensi 450 MHz dan menggantikan sistem Nordic Mobile Telephone (NMT) yang sudah mulai ketinggalan zaman. Hadirnya CDMA450 juga memungkinkan sistem CDMA menerobos kawasan yang selama ini adalah basis GSM seperti Eropa Timur.
Lebih populer lagi adalah penggunaan CDMA sebagai jaringan nirkabel terbatas seperti yang ditunjukkan di Indonesia lewat TelkomFlexi, dan StarOne (Indosat). India dan Indonesia memang tercatat sebagai kawasan yang sukses menggunakan sistem tersebut.
Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan, merupakan negara pertama di Asia yang meluncurkan jaringan 3G berbasis WCDMA, sedangkan Singapura dan Taiwan melakukan hal yang sama pada 2004, disusul tahun berikutnya oleh Malaysia.
Bagaimana dengan Indonesia? Layanan 3G diperkirakan akan mulai marak dan beberapa operator akan beroperasi secara komersial pada 2007, seiring dengan belum selesainya penataan ulang frekuensi spektrum oleh Pemerintah.
Operator seluler PT Telkomsel telah mengumumkan bahwa pihaknya telah melakukan ujicoba layanan 3G di Indonesia pada awal Mei 2005. Kesiapan itu juga telah dibuktikan Telkomsel di CommunicAsia 2005.
Di sela-sela pameran di Singapura Expo itu, Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Telkomsel, Bambang Riadhy Oemar, bekerjasama dengan mitra roaming Singapore Telecom (Singtel) melakukan video call ke Jakarta, dengan hasil yang cukup memuaskan.
"Jadi intinya kita siap meluncurkan akses 3G tidak hanya di Indonesia saja, tetapi di Singapura, Australia, Eropa dan menyusul Philipina. Ini juga sebagai bukti bahwa kita lebih siap dan tidak ada alasan pemerintah untuk tidak memberikan lisensi 3G pada Telkomsel," katanya.
Sementara itu, kesiapan menyelenggarakan layanan 3G juga diungkapkan Vice Presiden New Products, Technology, VAS, WiMax dan 3G PT Excelcomindo Pratama (XL), Alfred Boediman.
Alfred menegaskan, XL akan melakukan ujicoba layanan seluler 3G pada Agustus 2005 dengan menggunakan teknologi jaringan milik Huawei, dan Ericsson.
"Secara teknologi, XL sudah siap melakukan ujicoba mulai dari infrastruktur hingga fitur-fitur layanan yang dapat disediakan bagi konsumen ke depan," kata Alfred, ketika ditemui di Hotel Rafless, Singapura.
Secara keluruhan, dari sisi telekomunikasi jenis seluler, topik layanan seluler 3G masih mendominasi CommunicAsia 2005.
Selain layanan 3G, teknologi berbasis Wide Code-Multiple Division Access (WCDMA) juga menjadi pembicaraan hangat di CommunicAsia 2005, serta telekomunikasi berbasis Voice over Internet Protocol (VoIP), information security, ponsel megapiksel (megapixel phones), maupun Wi-Max.
Dengan demikian, perang teknologi dan isu hangat seputar telekomunikasi masa depan yang menjadi oleh-oleh dari kunjugan ke Singapura ini, dapat dibuktikan tahun ini juga, dan pada CommunicAsia 2006. (*/dar)