Dia mengatakan kepada majalah Time, ada 'titik lemah' dalam perang teror yang dipimpin Amerika Serikat. Pernyataannya itu keluar setelah adanya kecaman AS terhadap peran Pakistan dalam pemburuan para tersangka.
Osama bin Laden, yang dicari-cari setelah serangan 11 September, banyak dipercayai berada di daerah kesukuan adat Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan.
Dia berhasil lolos dari berbagai upaya penangkapan sejak serangan 11 September 2001, yang ditimpakan tanggungjawabnya kepada al-Qaeda.
Ribuan tentara yang dipimpin AS telah dikerahkan untuk menemukan milyuner kelahiran Arab Saudi, yang kini kepalanya 'dihargai US$25 juta'.
Persembunyian
Goss mengatakan, kecil kemungkinannya bin Laden akan bisa diseret ke pengadilan sampai "kami memperkuat semua titik " dalam mata rantai pemburuan yang dipimpin oleh Amerika untuk menangkap para tersangka teror.
"Kalau anda sampai pada masalah yang sangat sulit untuk menghadapi tempat-tempat persembunyian di negara yang berdaulat, anda berhadapan dengan problim rasa-memiliki-kuwajiban-intrernasional dan main secara jujur yang ada pada diri kami".
"Kami harus menemukan cara untuk bekerja di dunia yang konvensional dengan cara-cara yang tidak-konvensional, yang bisa diterima oleh masyarakat internasional."
Ketika ditanya apakah dia cukup tahu tentang di mana kira-kira Osama bin Laden berada, ia mengatakan:"saya sangat tahu di mana dia. Apa lagi pertanyaan anda?"
Pakistan
Kepala CIA itu tidak menyebut nama Pakistan dalam wawancaranya dengan Time. Tetapi pernyataannya itu keluar setelah muncul perselisihan antara Islamabad dan duta besar AS untuk Afghanistan yang akan menyelesaikan tugasnya, Zalmay Khalilzad, yang sering menuduh Pakistan melindungi para tersangka teror.
Duta besar AS itu marah pekan lalu, setelah televisi Pakistan Geo mewawancarai seorang komandan tinggi Taleban di Afghanistan, yang mengatakan bin Laden dan pemimpin Taleban Mullah Omar kedua-duanya masih hidup dan dalam keadaan baik.
"Kalau sebuah stasiun televisi bisa berhubungan dengan mereka, bagaimana dinas intelijen sebuah negara yang memiliki bom nuklir dan banyak pasukan keamanan serta tentara tidak bisa menemukan mereka?" tanya Khalilzad dalam sebuah wawancara dengan televisi Afghanistan.
Jurubicara kementerian luar negeri Pakistan menyebut pernyataan Khalilzad itu "tak bertanggungjawab".
Pakistan adalah pendukung utama penguasa Taleban garis keras sampai Presiden Musharraf iku bergabung dalam perang melawan teror pada akhir tahun 2001.
Ratusan tersangka teror, termasuk sejumlah orang yang disebut-sebut sebagai gembong-gembong al-Qaeda, telah ditahan sejak itu. (bbc/rit)