< >

BI Dorong Minat Investor Dirikan BPR

Selasa, 21 Juni 2005 15:37
Kapanlagi.com - Bank Indonesia (BI) terus melakukan sosialisasi mengenai Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dalam rangka mendorong minat investor untuk mendirikan BPR agar infrastruktur perbankan itu berkembang, sehingga pembiayaan kepada usaha kecil di daerah bisa terjangkau.

Hal ini disampaikan Deputi Gubernur BI, Maman H. Soemantri dalam sambutan tertulisnya dibacakan Kepala BI Cabang Kendari, Sarwanto pada acara pertemuan Tripartit Pemerintah-Perbankan-Pengusaha KTI VIII di Kendari, Selasa (21/6).

"Demikian pula, kemudahan dalam pendirian BPR agar pembiayaan kepada usaha kecil di daerah dapat terjangkau, apabila infrastruktur perbankan berkembang," ujarnya.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan BPR dan lembaga keuangan mikro (LKM) dalam menyalurkan kredit kepada UMK, serta membantu bank/lembaga keuangan dalam meningkatkan kredit kepada UMKM, BI mendorong linkage antara BPR dan bank umum.

"Dalam upaya pengembangan penyaluran kredit, khususnya kepada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), BI berusaha untuk memberikan bantuan secara teknis," ujarnya.

Soemantri mengatakan, BI juga melakukan penelitian untuk produk-produk yang layak dibiayai, serta pembuatan baseline economic survey yang berisi potensi pengembangan produk-produk daerah.

Mengenai penyaluran kredit, Soemantri mengatakan, pihak perbankan masih menerapkan prinsip kehati-hatian. Secara umum dikenal prinsip 5-C yakni collateral, capitalm capacity, character dan condition yang tetap menjadi dasar penilaian bagi analis kredit.

Apalagi di masa mendatang, katanya, ketentuan perbankan akan semakin ketat dengan memperhitungkan berbagai risiko seperti risiko pasar, risiko kredit dan risiko operasional.

"Oleh karena itu perlu digarisbawahi di sini bahwa agar setiap kegiatan sektor usaha dapat bankable, maka faktor kelayakan finansial yang tercermin dari pengembalian kredit mutlak harus dipenuhi," ujarnya.

Ia juga mengharapkan kepada kalangan pengusaha, agar memahami dan menyadari bahwa era subsidi sudah berakhir. BI tidak lagi memberikan kredit bersubsidi, demikian pula, perbankan diminta bersaing untuk mencari sumber dananya sendiri guna membiayai kredit-kredit perbankan sesuai dengan mekanisme dan perkembangan pasar. (*/bun)