KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa MobilHal itu dikemukakan Presiden Asosiasi Desainer Produk Indonesia (ADPI) Mizan Allen De Neve, pada final lomba desain televisi yang diselenggarakan PT LG Electronics Indonesia (LGEIN) di Jakarta, Kamis (30/6).
"Ini perlu kita ubah, karena kita tidak mau selamanya menjadi negara dengan `assembling industry` (industri perakitan) yang hanya tinggal pasang suku cadang produk mengikuti deain produk yang sudah ditentukan negara lain," katanya.
Ia berharap dengan lomba yang mengembangkan desai lokal, maka akan meningkatkan ide dan kreatifitas sehingga akhirnya kelak Indonesia tidak hanya berstatus sebagai negeri tempat industri perakitan saja, tapi juga mengarah pada industri berbasis R&D (riset dan pengembangan).
Menurut dia, Indonesia telah memiliki banyak sumber daya manusia (SDM) kompeten dalam desain produk, namun industri di dalam negeri belum banyak yang membuka diri untuk melakukan produk berdesain lokal, seperti pada elektronik dan otomotif yang banyak banyak tergantung desain prinsipalnya.
"Ini perlu didukung kebijakan pemerintah untuk membuat `road map` (peta jalan) pengembangan produk desain di dalam negeri," katanya.
Mizan menegaskan peran swasta dan pemerintah dalam pengembangan desain lokal sudah saatnya semakin digalakkan. Oleh karena itu, ia menyambut positif lomba desan televisi LGEIN yang sudah dilakukan sejak tahun 2003 guna mempromosikan profesi "industrial desaign", di samping mengembangkan kreatifitas desain lokal.
Sementara itu, Kepala R&D Desain Industri LGEIN, Dino Fabriant, mengatakan tujuan lomba desain televisi itu dimaksudkan untuk merangsang perkembangan produk berdesain lokal.
"Itu penting karena produk berdesain lokal tentunya lebih mudah diterima pasar karena lebih cocok dengan selera pasar," katanya.
Lebih jauh, ia mengatakan lomba yang diadakan sejak tahun 2003 tersebut meraih kemajuan yang pesat baik dari jumlah peserta yang sekarang mencapai 400 orang dengan total 360 desain, maupun dari segi pemahaman akan teknologi.
"Banyak karya yang dibuat secara digital, sebelumnya hampir 40 persen masih dibuat secara manual. Selain itu pemahaman peserta mengenai televisi khususnya TV digital tahun ini jauh lebih baik dilihat dari teknologi, user interface, serta gaya dan proses produksi. Banyak ide desain yang unik dan tidak pernah dipikirkan kita sebelumnya," ujar Dino.
Muncul sebagai pemenang adalah tiga mahasiswi dari Fakultas Desain Interior Universitas Pelita Harapan (Devany, Yoanna, dan Gilda Alisi) yang membuat televisi dapat diputar 360 derajat sehingga bisa ditonton dari berbagai sudut pandang.
"Desain yang menang akan dikirim ke LG Desain Center di Korsel untuk dikaji lebih jauh sehingga dapat dihasilkan televisi yang menjadi hit model pada waktu mendatang," kata Dino. (*/dar)