"Mudah-mudahan akhir bulan tidak ada lagi (antrian beli BBM). Saya janji nih, akhir bulan tidak ada lagi antri-antrian (di) seluruh tanah air," kata Dirut Pertamina, Widya Purnama, di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (8/7).
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Jumat itu secara mendadak memanggil beberapa pejabat seperti Menko Perekonomian Aburizal Bakri, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Dirut Pertamina Widya Purnama, Kepala BIN Syamsir Siregar dan Menko Polhukam Widodo AS.
Presiden memanggil pejabat setelah melatik Jenderal Sutanto menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Da`i Bachtiar dan sebelum acara akad nikah putra sulung Presiden, Agus Harimurti, dengan Annisa Larasati Pohan.
Presiden, kata Widya, meminta agar Pertamina terus memasok kebutuhan masyarakat. Untuk itu Widya meminta masyarakat tidak panik dan jangan melakukan "rush" (membeli secara berlebihan). "Beli secukupnya," katanya.
Widya meminta maaf kepada masyarakat karena beberapa hari belakangan ini harus antri panjang untuk memperoleh BBM.
Widya mengatakan bahwa pada saat ini ada tujuh daerah yang kritis BBM yakni Krueng Raya (NAD), Sibolga (Sumut), Sampit (Kalbar), Parigi, Ampenan (NTB), Kupang (NTT), dan Marauke (Papua).
Pertamina akan segera memasok BBM ke daerah-daerah tersebut. Masalah BBM di Kupang, katanya, akan segera teratasi pada Minggu (10/7) karena saat ini kapal pengangkut BBM sudah jalan dari Manggis, Bali.
Sementara itu Purnomo mengatakan bahwa pemerintah akan memantau dari waktu ke waktu titik yang terjadi masalah BBM. Ia mengatakan bahwa masalah BBM di Kupang dan Sibolga akan segera dapat diatasi.
Sedangkan Direkur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Ari Soemarno, mengatakan bahwa krisis BBM lebih disebabkan karena adanya "rush" sehingga kebutuhan meningkat.
Sebagai contoh, persediaan BBBM di Bengkulu sebenarnya cukup namun karena terjadi "rush" maka masyarakat antri untuk mendapatkanya. "Menado juga begitu," katanya.
Sementara itu di Kupang setiap hari dipasok 80.000 liter. "Bukan tidak ada BBM," katanya. (*/dar)